Ditipu Cabe (-cabean) ?

Monday, December 14, 2015

sore itu sesampainya dari penerbangan yang panjang saya diajak ke toko kelontong langganan suami. letaknya lumayan jauh dibelakang apartemennya. sekali jalan kaki makan waktu 15 menit. tapi tetep senang. iya karena akhirnya bertemu setelah sekian bulan berjauhan. romantis lah ya... tapi bukan tentang romantisme jalan-jalan belanja berdua ditempat asing yang saya ingin ceritakan. karena ya memang gak seromantis itu sih. hahaha...

 
jadi sebenernya saya cuma mau cerita tentang cabe. cabe-cabean di negeri sakura yang kala itu sedang berangin dingin. apakah fenomena cabe-cabean dikenal ada juga disana? hoho... bukan kok... bukan tentang gadis-gadis abege (jablay) yang hobi boncengan 3 malem-malem di perempatan gelap. tapi cabe dalam arti denotatif, yang rasanya pedas dan menggugah selera sebagian orang. termasuk saya yang baru sehari keluar kandang sudah kangen pedesnya cabe, meski di kampung gak tiap hari makan cabe juga sih. entah kenapa, mungkin gara-gara tetiba kesal waktu membongkar barang bawaan ternyata saos cabenya ketinggalan. akkh!

maka sore itu, mata langsung berbinar dan hati girang begitu melihat hijau-hijau panjang. gak cuma hijau sih, ada yang semu-semu oranye. langsung aja nyolek si mamas minta dibeliin sekantong. tapi apa lacur. permintaan saya ditolak mentah-mentah dong. dijelaskannya bahwa itu bukan cabe seperti di indonesia. itu cuma mirip dan rasanya jauh dari enak. meski saya ngeyel dan merajuk, pendirian si mamas (gembub *mulai kesel*) tetep kokoh. ya sudah, akhirnya kami hanya membeli ayam halal dan beberapa liter air mineral serta sedikit cemilan.

ternyata kejadian yang hampir sama terulang kembali di beberapa hari berikutnya. saking pengennya makan pedes. bukan ngidam kok. cuma memang saya gak gitu tahan dengan makanan yang kurang berasa bumbunya. penolong utama cuma yang berkeju-keju ala masakan italia. hanya saja yang seperti itu harus benar-benar yakin bebas babi atau hal-hal terlarang lainnya. ya, meski menyukai negara tempat suami merantau, ternyata saya agak kerepotan beradaptasi dengan makanannya untuk jangka waktu yang lumayan. oh, mungkin saya harus merayunya agar bisa tetap tinggal lebih lama ya. hahaa... alasan!

ah jadi lupa mau cerita tentang "cabe" part-2. waktu itu kami mampir sebentar di stasiun pertama sebelum lanjut ke tokyo, kuki namanya. tujuan sebenernya adalah membeli sedikit oleh-oleh untuk dibawa pulang di toko hyiakueng. begitu masuk lorong, mata saya benar-benar silau, banyak barang lucu-lucu dengan harga murah meriah. jepang memang jagonya membuat barang kawai--imut, lucu dan unik. kalau tidak dijagai oleh kangmas tercinta pasti saya sudah gelap mata memasukkan apa saja ke dalam keranjang belanja. pun ketika tiba-tiba menemukan berbotol-botol "saos cabe". warna merah menyalanya benar-benar membuat silap hati. saya langsung ambil 3 botol. tapi begitu sampai kasir, eeehh tak satupun diijinkan oleh sang pembayar alias si mamas gembup. sempet berdebat kecil. tapi lagi-lagi saya kalah dengan penjelasannya yang sangat meyakinkan, bahwa itu bukan saos cabe seperti yang ada di indonesia.

hingga suatu waktu, kami diajak makan bersama teman kerja si mas. kami disuguhi sepiring besar sushi segar dan sate khas jepang (yakitori). nah, salah satu hidangan yang dibakar adalah sayuran yang dicampur daging dan ikan. sayuran itu..... ada yang mirip cabe, persis dengan yang saya temukan ditempat belanja beberapa hari sebelumnya. ya, si "cabe" hijau. akhirnya saya dapet juga, yes! begitu masuk mulut ternyata... akh! rasanya getir-getir aneh. sumpah aneh. that's not chilli at all! suami saya cuma nyengir aja, dan tentu saja ketawa puas waktu kami jalan pulang. hahaa... oke, saya lalu tanya google, jawabannya ternyata namanya shishitou. bentuk boleh mirip, tapi rasa beda jauh.


(saos) "cabe" kedua apakabar? apakah saya sempet merasakannya disana? saya lupa, tapi sepertinya itu semacam tabasco - tulisan kanjinya mengaburkan mata, dan kalau memang iya berarti saya pernah mencobanya di warung pizza paling banyak di indonesia. sebenernya tabasco punya kandungan cabe, cuma sudah diolah dengan cuka jadi rasanya cenderung kecut dan saya gak begitu suka. oalah! untung saya gak ngotot beli 3 botol waktu itu di kuki. alhamdulillah.

oh ya, akhir kata #lesson learnt-nya kalau kamu penggila pedas kemanapun kamu pergi jangan lupa bawa cabe, saos sambal, sambal botolan, cabe kering atau merica yang banyak. serius!

note:
# tentang jepang yang belum tertulis. jangan bosan ya!
# gambar dari flickr & vemale.com

\\

You Might Also Like

8 Comments

  1. Saya teringat pernah pergi ke HK, dan yang saya dan suami saya rindukan adalah cabe dan tempe. Apalagi suami saya, paling nggak bisa makan yang nggak pedas. Dia hanya bisa tersenyum kecut dan menahan rasa ingin makan pedas dengan makan cabe ala kadarnya di KFC atau mcD disana ... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama mba, waktu saya makan berger disana juga betapa hambar gak ada saos cabe, yg ada malah saos tomat. hohoho

      Delete
  2. cabenya mirip "cabe india" ukurannya jumbo, panjang,gemuk rasa cabe.
    Kalo di Bandung saya sering masak jenis cabe ini, "cabe gemuk bulat" pedesnya luar biasa, dimasak opor/bersantan .. disebutnya "cabe gendhot".

    tulisan yg menarik mbak, ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. mirip juga ya sama si cabe jepang ini, sayangnya cabe jepang ga ada rasa pedesnya...

      Delete
  3. Kalau di buat sambal uleg plus trasi plus ikan asin bagaimana rasanya yah,,, Hehe

    ReplyDelete
  4. Cabe saya suka, tapi jangan pedes pedes, biasa saya makan sama tempe mendoan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. cabenya dicampur kecap jadi sambel kecap ya pak dhe?

      Delete

Thankyou very much for dropping by. Tapi maaf saya moderasi ya, untuk menghindari spam dan komen dg link hidup. Bila waktunya luang pasti akan saya balas dan kunjungi balik blog kalian :)

Friends

Community

Blogger Perempuan

Subscribe