Double Standard, Kok Nganu Ya?

Thursday, September 08, 2016

Huft...

Ngapunten, diawali dengan mengeluh. Abisnya gimana ya saya sudah lama pengen cerita sebenernya, dan sudah ditahan-tahan, akhirnya jebol juga. Gmz begete soalnya sis.


Iya saya bete sekali, dengan hal-hal yang berbau double standard. Gak konsisten. Emm... lebih jelasnya gini deh, pernah gak manteman merasa kenapa giliran kita yang ngomong, kita yang melakukan, kita yang gerak kok jadi salah? Sebaliknya kalau yang ngomong orang tertentu selalu di-oke-in alias dianggap benar, baik-baik saja, ya minimal dianggap maklum.

Misalnya seperti ini, sebut saja ada dua tokoh si A dan si B. Si A watak dasarnya keras dan bawel. Sedang si B biasa saja. Suatu hari si A memesan ojek online. Karena lama gak datang, si A komplain. "Pak lama banget sih, posisi udah dimana? Saya buru-buru tahu, udah mepet waktunya. Masa gak ngerti tempatnya, udah saya jelasin loh, blablabla...." cerocos si A dengan nada tinggi. Dan entah kenapa orang-orang disekitarnya merasa damai sentausa dengan omelannya. Ya ya ya, mungkin karena gak tahu pokok masalahnya kali ya, atau merasa bukan urusan jadi pada diam.

Kemudian, di hari yang berbeda, giliran si B yang pesan ojek online. Kebetulan mendapat kejadian yang sama, yaitu ojeknya ngaret alias gak dateng-dateng. Si B komplain juga dong. Dengan ocehan yang hampir senada dan seirama dengan si A, ternyata respon orang-orang disekitarnya bisa beda. "Sabar atuh B, lu gak sabaran banget sih, siapa tahu kan ban motor si ojek bocor jadi nambel dulu. Gitu aja sewot amat sii...." sahut seseorang. JERRR....

Padahal mereka berdua berada dalam lingkungan yang sama. Tapi kok nasibnya beda. Si A yang punya kebiasaan rese, nyolot, judes, semua-semua dikomentari, selalu mendapat tanggapan yang terlihat gak masalah dari lingkungannya. Eh giliran si B sesekalinya ngomong agak keras, langsung di huuu-in oleh lingkungan. Seolah-olah apa yang dilakukan si B gak wajar. Gak boleh ikut-ikut si A. Lah kan jadinya nganu....! Masa si A doang yang boleh komplain?

Begitu juga saat si A pengen tahu sesuatu, dia bisa dengan gampang nanya "eh ada apaan sih, ada apa? cerita dooong". Kemudian dengan senang hati semua orang rame-rame kasih cerita. Lain dengan si B kalau sampai nanya begitu, bakalan langsung disorakin "kepo, lu!". Padahal pertanyaannya sama, ke orang yang sama, cara ngomongnya gak jauh beda.

Secara pamor, memang si A jauh lebih-lebih lah, terbukti temannya banyak. Tapi secara attitude sebenernya gak baik-baik amat. Cenderung suka tantangan yang nyerempet pelanggaran. Sedangkan si B orangnya tipe medioker, alias biasa-biasa saja, attitude lebih ke lurus - takut melanggar - semacam cari aman kali ya. Bukan yang ala badgirl/badboy gitu deh. Mungkin karena itulah, mungkiiiin loh ya, fans-nya kalah jauh dibanding si A karena dianggap kurang asyik. Dan kok ya kebetulan di lingkungan tersebut, orang-orang cenderung lebih suka dengan tipe si A. Biasa kan orang-orang tipe badboy/badgirl itu banyak fans-nya karena biasanya cincai-an. Jadinya mau berperilaku semelanggar apapun, si A pasti ada yang mendukung, minimal memilih diam daripada bikin ribut.

Kebalikannya, mau sebagus apapun si B, pendukungnya ya cuma itu-itu doang. Apalagi kalau si B melakukan tindakan pelanggaran. Yang tadinya mendukung bisa aja tetiba pura-pura buta. Intinya saat si B melakukan seperti yang A lakukan, respon yang didapat tidak selalu sama dengan respon yang si A dapatkan. Maksudnya belum tentu si B mendapatkan dukungan, termasuk oleh teman-temannya sendiri. Sialnya, kalau si B baper, aduuh, makin salah lah dia. Ujian mental banget gak sih jadi orang macem si B? Cedihnya....

Orang-orang model si A dan si B juga beberapa kali saya jumpai di dunia tulis menulis, baik di sosmed maupun di blog. Ada si A yang famous dan si B yang newbi emm, biasa-biasa aja. Suatu hari, si A dan si B membuat tulisan yang 'menggugah' semacam mengkritisi kasus tertentu. Tulisan mereka mengambil sudut pandang yang sama, misal sama-sama pro atau sama-sama kontra.

Hasilnya bisa saja beda, lho. Tulisan si A mendapatkan sambutan hangat, angguk-angguk setuju, dan dukungan membahana tanda sepakat, sekalipun yang dibahas adalah hal yang kontroverisal. Dan jika kita datang dengan membawa komentar yang berlawanan -sekalipun dengan data dan fakta yang benar- ada kemungkinan malah kita yang diserang, tidak hanya oleh si penulis tapi juga oleh pendukungnya.

Orang-orang model si A kadang ada juga yang tak segan melanggar apa yang pernah ditulis/dikatakan sendiri. Saya pernah nemu yang model begitu soalnya. Misalnya: suatu waktu si A menulis tentang ketidaksukaannya dengan perilaku "ad hominem" yang dilakukan oleh orang-orang yang kontra dengannya. Ndilalah kok pas kepepet dia ketahuan melakukan ad hominem, sesuatu yang dia gak suka itu. Atau tiba-tiba komen pro terhadap tema tertentu hanya karena yang nulis adalah idolanya. Sementara dia sendiri pernah menulis pendapat yang sebaliknya, baik di akunnya sendiri ataupun di tulisan orang lain. Menelan ludah sendiri, kan namanya? Tapi kalau dikoreksi malah nantangin dan atau ngeles. Herannya yang kayak gitu kok ya teteeep aja hidup masih punya banyak pendukung.

Bagaimana dengan tulisan si B? Komentar yang masuk bisa jadi lebih beragam, tak jarang malah berat sebelah, yang mana lebih banyak kontra dibanding yang pro. Padahal temanya sama, pendapatnya sama, gaya menulisnya sebelas dua belas, eeh hasilnya bisa beda.

Apa kabar coba jika mereka menulis hal yang nyata-nyata berseberangan?
Apa kabar kalau orang macem B ini menyangkal komentar kontra yang masuk? 
Apalagi sampai ad hominem? 
Bakal jadi perang tanding Baratayudha kali ya?

Dari hal-hal diatas, kesimpulan pendek saya adalah mau segimanapun jeleknya kita kalau udah punya temen atau yang saya bilang fans (or lovers?), dukungan akan selalu ada. Meski saya yakin, dukungan untuk orang-orang begitu mah lebih banyak semu-nya. Sebaliknya mau sebaik apapun kita kalau gak punya fans ya bakal minim dukungan. Udah baik gak ada yang ngedukung pula, apalagi gak baik.... Contoh riil-nya ya kayak artis-artis itu, atau para selebgram/blog/twet/apalahapalah itu. Saat dikoreksi dihujat ketika melakukan hal yang tidak baik, tetep aja ada yang dukung... senangnya...!

Meski begitu, kalau kita berada di posisi yang orang biasa-biasa saja, kita harus tetap semangat berbuat baik walaupun tak selalu mendapat tempat di hati orang lain. Kata orang mah mending fokus kepada yang positif thinking ke kita, bukan yang sebaliknya. Terus hidup lurus-lurus aja deh, gak apa lah mau dibilang cari aman kek, gak gaul kek, gak asyik kek, lawong kita asyik pun belum tentu diterima. Gimana dong?

Jangan takut untuk speak up juga kalau memang ada sesuatu yang mengganjal. Jadi orang lurus bukan berarti yang iya-iya asal sampeyan senang doang kan? Masa di tempat kerja udah kebanyakan asalbapaksenang, di dunia lain masih begitu juga, karena heiii kita punya kebebasan berpendapat lho, jadi mari berpendapat, asalkaaan normanya tetap dipegang. Atau hey, jadilah diri sendiri (yang baik) sekalipun jalannya terjal. Gak usah ikut-ikut si A, si B, si C kalau tujuannya hanya untuk mencari eksistensi diri, tapi mengabaikan attitude. Buat apa fans banyak tapi sikap kita lebih banyak negatifnya. Nanti lama-lama fans juga melek kok, sadar kalau yang didukung itu gak selalu benar dan gak ada manfaatnya. Terus juga jangan menyerah dalam mencari teman, masa iya sih kebaikan yang kita lakukan sama sekali gak ada yang mendukung? Pasti adalah satu-dua orang yang sepakat suatu saat nanti.

----------- note to myself juga sih sebenarnya ini.

Akhirnyaa, yaa gitu deh keluh kesah sore ini, gegara mangkel denger ada yang teriak-teriak tidak menyenangkan padahal kalau yang ngomong si X langsung deh responnya bak ibu peri nan baik hati, inggih-inggih sumonggo meniko. Fiuh!


\\

You Might Also Like

10 Comments

  1. Hahaaa sesuai dg curhat kita waktu itu ya

    ReplyDelete
  2. Ngga semua orang ngerti apa yg mereka omongin. Gitu aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. emm... aku engga paham nay, jadi mereka yang memberikan respon berbeda untuk hal yang sama itu kadang2 gak nyadar gitu ya?

      Delete
  3. mbak tia lagi gondok mbak hehe :D
    pukpuk
    aku tipikal B banget, jenis orang lurus2 aja tapi kalau dapat komen yang gakenak langsung samperin yang komen minimal bales komen pedes. jadi ya kagak ada yang gituin daku sih mbak LOL

    jadi orang baik sih enak kan banyak yang nyaman temenan, saya sih nggak butuh fans, butuhnya temen :) tapi dalam hidup kita ya gitu kan biasa ada orang2 yang nyebelin, kalau saya lebih memilih konfrontasi langsung sm yg begituan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. err.. andai semua orang punya kemampuan lebih untuk konfrontasi langsung mungkin hatinya gak sesakit ini *halah*

      ya intinya kalau aku sebenernya gak pengen nyari ribut, tapi gondok mah tetep. hahaha.

      btw aq juga gak butuh fans sih, cuma pengen punya temen loyal dan setia hahayyy

      Delete
  4. Saya tipe B mba :)
    Gak apa, gak gondokan. Kesininya makin ngerti aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya ampun mba, dikau sabar banget malah yang makin kesini makin pengertian. aq belum bisa 100% menerima kalau dapat kejadian kayak B melulu

      Delete
  5. Double standard, hmmm banyak banget dalam dunia kerja. Di dunia nyata pun. Tapi ya gitu deh. Kadang orang yang bisa mempengaruhi opini publik yang didukung.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang banyak pendukung even itu salah kesannya jadi bener ya.
      kalau bener tapi gak ada yang dukung kesannya jadi salah.

      duh wolak waliking donya ya mba.

      cuma sebal aja sama yang sukanya pilih kasih alias double standar gitu. huhu

      Delete

Thankyou very much for dropping by. Tapi maaf saya moderasi ya, untuk menghindari spam dan komen dg link hidup. Bila waktunya luang pasti akan saya balas dan kunjungi balik blog kalian :)

Friends

Community

Blogger Perempuan

Subscribe