Proud Sister

Wednesday, September 14, 2016


[latepost] : kisah lama yang baru mau akan diceritakan sekarang

Postingan kali ini adalah cerita latepost. Seharusnya saya posting bulan Mei lalu. Tapi maju mundur terus karena ragu. Ragu jika nanti ada yang berprasangka. Huhu. Iya, saya sesentimentil itu ketika mau berbagi cerita-cerita yang privat sentris seperti ini. Padahal ini mah blog ane suka-suka ane mau cerita apa. Hingga kemudian saya menemukan posting Andien di Instagram dengan tajuk “Proud Sister”. Aiiihshe did too. Ternyata yaa gak ‘haram‘ lah ya mengungkapkan rasa bangga dalam balutan syukur akan keberhasilan saudara sendiri, apalagi saudara kandung. Tetiba saya jadi semangat mengulik kembali tulisan saya yang ini.
 

 
[23 Mei 2016]

Ketika menulis ini rasanya masih merinding. Masih euforia ditambah belum begitu move on dari liburan long weekend kemarin. Padahal bisa dibilang rencana liburan saya berubah total, bisa dibilang malah gak jadi refreshing dalam bentuk plesiran. Tapi untungnya semua seakan dibayar lunas dengan endingnya yang luar biasa.

Senin dua minggu yang lalu, 9 Mei 2016, saya sudah berada di dalam  kereta menuju ke Jakarta. Tanda libur telah  usai. Sepanjang jalan saya memilih untuk tidur, nyicil istirahat karena besoknya harus kerja. Fisik emang gak bisa bohong, capek sekali. Karena sejak hari pertama menginjakkan kaki di rumah, saya mesti ikut meramaikan beberapa agenda yang cukup padat. Nganterin -nemenin- Kunis ikut persiapan dan acara wisudaan, dan bantu2 Bapak menerima tamu siswa2nya yang juga mau lulusan. Farewell party ceritanya, karena bapak sudah jadi wali kelas mereka selama 3 tahun penuh.

Di dalam kereta, saya tidur-tidur ayam sampai jam 12-an siang. Bolak balik kebangun karena gak nyaman -kaki gak bisa selonjoran sesuka hati karena bangku yang sempit. Namanya juga tidur di kereta ya. Rasa gak nyaman itu sebenernya juga gara-gara saya tahu kalau hari itu bertepatan dengan pengumuman ujian masuk perguruan tinggi yang diikuti Kunis. Tadinya saya pikir dengan tidur saya akan lebih santai, eh ternyata gak juga. Tapi saya tetap sabar menahan diri untuk gak buka webnya sampai jam 1 teng, waktu pengumuman dimulai. Soalnya saya yakin pasti servernya down. Sambil menunggu waktu yang tepat, saya pilih makan dan ngobrol dengan si mas saja. Kasian dari tadi ditinggal bubu cantik oleh istrinya yang galau. Hehehe.

Lepas jam 1 rasanya kok gak ngantuk lagi. Malah jadi penasaran dengan pengumuman tsb. Akhirnya saya cari-cari juga akun si Kunis, terus nyoba buka situsnya, dan taraaaa! Server beneran down dong. Refresh bolak balik sami mawon. Meski begitu saya gak berniat nanya-nanya si Kunis atau Ibuk, karena pasti mereka lagi rempong ngrefresh tab juga. Hihii... 

Menunggu.... menunggu... hingga akhirnya saya bosan. Capek ah reload2 melulu. 

Sebenernya si Mas dari tadi udah menyarankan buat nanya ke Kunis atau Ibu langsung. Tapi saya ngeyel pengen buka sendiri. Berhubung eror terus jadinya saya nyerah juga. Lalu saya layangkan wa ke ibuk, sambil dagdigdug menunggu jawabannya.

Centing!
 
Hp saya bunyi. Ih ibuk ni pasti. Begitu kata pertamanya "Alhamdulillah, Anis keterima.... zadazadazada…" widiih, saya langsung lemes, tapi seneng. Yeaay! Si kunis, keterima SNMPTN-nya! Dan UNS, kampus kesayangan (saya), will be her campus too.

[Kunis]

Namanya Kunis, bukan nama samaran. Hanya salah satu nama panggilan yang kami berikan dengan ngasal saja. Hehe. 

Kiri: Kunis jaman ikut karnaval kayaknya, kostumnya auk pinjem dimana
Kanan: Foto bertiga, Kunis paling kiri. Foto sengaja diedit karena jadi testimoni olshop gamis batik :D


Umurnya 17 tahun. Dia lahir saat saya masih kelas 4 SD. Sejak kecil, dia kami anggap memiliki kemampuan diatas rata2. Rata2 dari kami berdua maksudnya, alias saya dan Itul, adek nomor 2. Saya dan Itul bisa dibilang cuma jago kandang. Tapi tidak dengan Kunis. Setelah menembus panggung SD, prestasinya terus melesat di bangku SMP hingga SMA, yang mana SMP SMA- nya merupakan sekolah favorit. Prestasinya pun bukan hanya bidang akademik, tapi juga pada bidang non akademik seperti lukis, kaligrafi, menulis dll. Itul pernah menuliskannya juga disini.

Hanya satu kesamaan kami: sama-sama gak bisa olahraga. Haha. Sebenernya termasuk gak bisa nyanyi juga sih, cuma dia bisa main alat musik macem biola, organ, dan seruling, karena lebih berani mencoba dibanding saya dan Itul. Bagian ini memberikan insight buat saya bahwa apa yang sebelumnya dirasa tidak bisa, ternyata bisa dilakukan asal ada rasa ingin tahu yang besar serta kemauan yang kuat untuk berusaha *haseek*

Sekarang, gak terasa sudah saatnya Kunis masuk jenjang kuliah. Time flies, padahal 2 tahun yang lalu baru ribet daftar SMA. Jurusan yang akhirnya diambil pun gak main2 menurut saya, Pendidikan Dokter, setelah sebelumnya bergalau-galau ria. "Yang penting banyak biologi dan kimia2anya", begitu jawabnya setiap ditanya pengen kuliah apa. Ya, passion Kunis memang di dua mapel itu. Dan saya tahu, Kunis mengambil jurusan tsb bukan untuk  gaya-gayaan, gengsi atau sekedar memanfaatkan nilai-nilainya sewaktu sekolah. Bahkan mimpinya tsb sudah dia cantumkan pada tembok kamar kosnya entah sejak kapan, mungkin sejak pertama kali mendapat status siswa SMA. Beda dengan saya dulu, yang waktu memilih jurusan belum ketemu passion-nya apa. Apalagi pas ngisi formulir sambil sesenggukan karena sebal kehabisan kuota PMDK di kampus kuning - Universitas Impian. Hiks.

So, Kunis...

This achievement is also the begining. Baru awalan. Tapi selamat ya, bakal jadi alumni UNS juga. Eike jadi ada alesan buat main2 ke Solo lagi. Hahay. Terus jangan kaget pas ke kampus, bangunannya emang belum sebagus the top 5, tapi percayalah UNS terus berbenah kok. Nyatanya dalam 6 tahun terakhir kampus makin bagus, banyak bangunan yg direnovasi, banyak prestasi yang sudah ditorehkan. Kalau ada bagian2 yang masih ya gitu deh, harap maklum yaa :D. Nanti juga dibenerin.

"Pas kuliah nanti tetep semangat, pantang menyerah dan fokus pada cita-cita. Kata orang kuliahnya memang gak gampang, tapi nyatanya banyak yang bisa melaluinya dengan lancar dan gemilang. Semoga lancar semua2nya dan ketemu banyak temen yang baik2. Lulus jadi dokter yang humanis dan rendah hati.  

Selain kuliah, ikut aja kegiatan ekstrakurikuler, buat nambah pengalaman juga ngurangi bosen belajar melulu. Pilih ekskul yang relevan sama studi, mengasyikan, gak nyita banyak waktu, fisik dan pikiran. Dan pssst…. gak usah ikut ekskul yang berbau-bau politik ya.

Nah mumpung masih ada waktu, ayo latihan numpak motor, biar lebih praktis wara wiri. Tapi kalau mau numpak pit onthel, sing jaremu kayane asyik ya gak apa-apa. Malah sehat dan seger…

....

Udah kayak emak2 belum pesennya? Kalau ibuk punya blog pasti pengen nulis beginian. Hihi. 

Kira2 begitulah akhir cerita dari liburan long wikend saya kemaren. Tadinya saya pengen banget keliling tempat wisata hits di Kebumen/Purworejo yang bertebaran di instagram dan facebook. Tapi sampai rumah rencana tinggalah rencana, karena saya langsung dibooking bapak ibuk untuk mengawal si bungsu. Hahaha...

…….

[latepost story . closed]

You Might Also Like

13 Comments

  1. Kalian bertiga keren yaa berprestasi dan kompak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks Nay, tapi buat aq yang sekarang ndak seperti yang dulu lagi, huhu

      Delete
  2. Berbangga y mba jika punya saudara yang bisa menggapai impian dan mengharumkan keluarga :) selamat buat Kunis moga mjd pribadi bermanfaat kelak

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba, ikut bangga tapi juga jadi tantangan untuk ke depannya. terimakasih mba herva, keep update about tulisan tentang human capital :)

      Delete
  3. aku nggak ngerti kenapa nulis aja bisa galau sih mbak? blog2 ente mau dispam juga silahkeun :D yang komen gak enak diapus ajalah hahaha *jehong*

    selamat buat kunis dan ya perjalanan masih panjang. smg bener2 passionate dibidangnya dan terhindar dari rasa iri ketika temen2 seangkatan SMA sudah punya jabatan di kantornya masing-masing dan gaji besar tapi dia mungkin masih sekolah. masuk fk seperti balik lagi masuk SD soalnya yes.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya takut dikatain ninda, ntar dikira yang enggak2. haha, maklum sini parnoan.
      dan kamu benar sekali, sekolah dokter itu seperti balik ke SD ya, sekolah minimal 6 tahun, dan mesti kuat mental, baik yang ngejalani maupun kerabat/teman di sekitarnya. karena mau gak mau sejak awal masuk sudah pasti sibuk luar biasa sampai sms/wa aja gak sempet *curcol*

      Delete
  4. anak ketiga itu apa memang slalu lbh pinter yaa :D.. hihihi adekku yg no3, jd lbh pinter dr aku dan adik kedua mbak.. kalo kita jagonya cuma di pelajaran2 mainstream kyk ekonomi, adekku di eksakta kuatnya.. makanya dia jg ambil kuliah dokter dan skr spesialis THT..at least kalo dr mamaku, terkabul jg keingina, ada 1 anaknya yg dokter :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hhaha... iya ya mba, mungkin adonan waktu bikinnya lebih bener takarannya. Kalau yang pertama2 kan masih percobaan tuh. wkwkwkwkk...

      kalau dari ortu sebenernya gak ada yang mempunyai cita-cita jadi dokter. eh ndilalah aja si bontot pada akhirnya masuk ke fk mba, rejeki berarti ya, tapi jg sekaligus tantangan.

      Delete
  5. Aiiih...aku terharu bacanya Mba. Terus itu pesab buat Kunis udah disampaikan belum? Apa ikut2an jadi latepost? Wkwkwk.
    Sukses buat Kunis ya Mba^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. pesannya secara tersirat sudah disampaikan mba, tapi seiprit-seiprit biar gak puyeng anaknya, kakaknya cerewet banget. Haha... makanya ditulis biar komprehensif lalu ntar kalau sempet di post ke sosmed yang bisa ngetag ke doi.

      suwun ya mba rotun :)

      Delete
  6. slm selamat bwt adeknya ya mbk, kereeenn

    ReplyDelete
  7. Senangnya punya adik yg berprestasi seperti itu...


    Salam kenal dr blogger ala2

    ReplyDelete

Thankyou very much for dropping by. Tapi maaf saya moderasi ya, untuk menghindari spam dan komen dg link hidup. Bila waktunya luang pasti akan saya balas dan kunjungi balik blog kalian :)

Friends

Community

Blogger Perempuan

Subscribe