Selain FDS ada satu tema lagi yang minggu ini sedang ramai. Tak lain tak bukan adalah tema #NikahMuda yang dilakukan oleh putra Ust Arifin Ilham. Jujur saja waktu pertama kali berita tsb viral saya ikut penasaran, pengen buktiin itu hoax atau beneran. Setelah baca dari berbagai sumber *niat gak tanggung2*, baru deh percaya kalau berita tsb sungguhan. Soalnya biasa kan yang rame-rame gitu suka boong.
therantinglatina.com
Ngomong-ngomong nikah muda, saya jadi teringat cerita mantan seorang atasan. Sebut saja Mrs S. Dulunya, beliau juga menikah muda, kisaran usia 20 tahun. Suaminya pun usianya sedikit diatasnya (atau sama?). Setelah menikah mereka tinggal di luar negeri untuk sama-sama menempuh pendidikan hingga jenjang doktoral hingga dikaruniai beberapa anak.
Ternyata urusan nikah muda ini sedikit banyak menular ke anak beliau (yang perempuan). Cita-cita anaknya adalah menikah muda untuk kemudian sekolah bersama suami hingga jenjang tertinggi di luar negeri seperti yang ortunya lakukan dulu. Urusan memiliki momongan akan dilakukan sampai usianya cukup untuk hamil dan melahirkan. Keinginannya tersebut pun sudah disampaikan ke orang tuanya, Mrs S dan suami. Hanya saja, waktu itu calonnya belum ada, hehe.
Lalu bagaimana tanggapan beliau tentang ide anaknya tsb? So far, beliau setuju saja jika anaknya mau menikah selepas sekolah, tetapi baik anak maupun calonnya harus sudah yakin dan mantap secara mental. Calon menantunya juga harus sudah berpenghasilan meski seadanya - paling tidak cukup untuk menafkahi keluarga, dan mau sama-sama berjuang meraih pendidikan sampai tingkat lanjut. Meski mensyaratkan calon suami anaknya agar sudah berpenghasilan, Mrs S bilang bahwa dia tetap bersedia membantu anaknya dalam urusan rumah tangga, misal membiayai kuliah, jika dirasa keuangan yang dihasilkan masih belum cukup layak. Selain itu, Mrs S ingin agar keluarga kecil anaknya bisa tetap konsen menjalani pendidikan dengan optimal tanpa pusing memikirkan biaya hidup yang cukup besar.
Saya sih maklum ya dengan ide ibu dan anak tsb. Mereka memiliki pandangan dan tujuan masing-masing. Sepanjang yang dilakukan baik karena niat yang baik pula, saya gak kontra. Pun kepada keluarga ustad-ustad yang sudah menikahkan anak-anaknya di usia dini, sebut saja selain Arifin Ilham sudah lebih dulu dilakukan Aa Gym. Bahkan ketiga anak Aa Gym semuanya menikah muda, termasuk anaknya yang cowok sudah menikah pada usia 18 tahun. Kalau melihat akun IG-nya sih hidupnya sangat baik dan memancarkan aura keluarga yang sakinah mawaddah warahmah, amin.
Naah... kalau ide menikah muda itu datang dari anak saya sendiri gimana ya?
Ehm! Meski saya gak kontra, tapi ya ngeri-ngeri sedap juga dengernya. Bagi saya menikah muda itu bukan tren yang bisa diikuti oleh semua remaja. Bukan juga ajang lomba cepet-cepetan, lalu yang belum nikah jadi gak gaul gitu. Karena menikah bukanlah akhir babak kehidupan yang selalu happily ever after layaknya kisah di negeri dongeng. Justru pernikahan itu gerbang baru yang didalamnya banyak tantangan. Sehingga sebelum memutuskan untuk menikah kedua calon mempelai harus sudah memikirkan banyak hal dan mempertimbangkannya masak-masak. Yang pasti jika itu terjadi, dalam memutuskan saya harus rembugan dengan Mr Suami dong... Demilancarnya pembuatan tulisan mengetahui pendapat beliau, saya melakukan wawancara ke Mr Suami, hasilnya sbb:
Saya : Cin, cin, ngobrol dongjangan main hape aja. Cin, kalau nanti kita punya anak, terus anaknya pas lulus SMA minta kawin gimana?
Suami: Emm...masih mantengin hape, gimana ya? Anaknya cowok apa cewek?
Saya: Kalau cewek gimana, kalau cowok gimana?
Suami: Kalau cowok, ya mas akan pastikan umurnya berapa, sudah siap mental belum, suka galau labil apa enggak, sudah bisa kontrol emosi belum, sudah punya apa, sudah bisa menghasilkan apa, sekolahnya bener apa enggak, ibadahnya gimana, sudah siap mandiri apa belum, visi misi dan tujuan nikahnya apa, hubungan dengan orang tuanya gimana, boleh gak sama orangtuanya, cita-citanya apa, setelah nikah mau ngapain. Ya gitu-gitu lah standar cowok kalau mau nikah. Begitu juga hal itu akan ditanyakan ke calon mantu, jika anak kita cewek. Kalau salah satu dari syarat itu gak oke, ya gak boleh lah. Benerin diri dulu baru boleh nikah.
Saya: Lah kalau anak kita cewek boleh gak nikah muda?
Ternyata urusan nikah muda ini sedikit banyak menular ke anak beliau (yang perempuan). Cita-cita anaknya adalah menikah muda untuk kemudian sekolah bersama suami hingga jenjang tertinggi di luar negeri seperti yang ortunya lakukan dulu. Urusan memiliki momongan akan dilakukan sampai usianya cukup untuk hamil dan melahirkan. Keinginannya tersebut pun sudah disampaikan ke orang tuanya, Mrs S dan suami. Hanya saja, waktu itu calonnya belum ada, hehe.
Lalu bagaimana tanggapan beliau tentang ide anaknya tsb? So far, beliau setuju saja jika anaknya mau menikah selepas sekolah, tetapi baik anak maupun calonnya harus sudah yakin dan mantap secara mental. Calon menantunya juga harus sudah berpenghasilan meski seadanya - paling tidak cukup untuk menafkahi keluarga, dan mau sama-sama berjuang meraih pendidikan sampai tingkat lanjut. Meski mensyaratkan calon suami anaknya agar sudah berpenghasilan, Mrs S bilang bahwa dia tetap bersedia membantu anaknya dalam urusan rumah tangga, misal membiayai kuliah, jika dirasa keuangan yang dihasilkan masih belum cukup layak. Selain itu, Mrs S ingin agar keluarga kecil anaknya bisa tetap konsen menjalani pendidikan dengan optimal tanpa pusing memikirkan biaya hidup yang cukup besar.
Saya sih maklum ya dengan ide ibu dan anak tsb. Mereka memiliki pandangan dan tujuan masing-masing. Sepanjang yang dilakukan baik karena niat yang baik pula, saya gak kontra. Pun kepada keluarga ustad-ustad yang sudah menikahkan anak-anaknya di usia dini, sebut saja selain Arifin Ilham sudah lebih dulu dilakukan Aa Gym. Bahkan ketiga anak Aa Gym semuanya menikah muda, termasuk anaknya yang cowok sudah menikah pada usia 18 tahun. Kalau melihat akun IG-nya sih hidupnya sangat baik dan memancarkan aura keluarga yang sakinah mawaddah warahmah, amin.
Naah... kalau ide menikah muda itu datang dari anak saya sendiri gimana ya?
Ehm! Meski saya gak kontra, tapi ya ngeri-ngeri sedap juga dengernya. Bagi saya menikah muda itu bukan tren yang bisa diikuti oleh semua remaja. Bukan juga ajang lomba cepet-cepetan, lalu yang belum nikah jadi gak gaul gitu. Karena menikah bukanlah akhir babak kehidupan yang selalu happily ever after layaknya kisah di negeri dongeng. Justru pernikahan itu gerbang baru yang didalamnya banyak tantangan. Sehingga sebelum memutuskan untuk menikah kedua calon mempelai harus sudah memikirkan banyak hal dan mempertimbangkannya masak-masak. Yang pasti jika itu terjadi, dalam memutuskan saya harus rembugan dengan Mr Suami dong... Demi
Saya : Cin, cin, ngobrol dong
Suami: Emm...
Saya: Kalau cewek gimana, kalau cowok gimana?
Suami: Kalau cowok, ya mas akan pastikan umurnya berapa, sudah siap mental belum, suka galau labil apa enggak, sudah bisa kontrol emosi belum, sudah punya apa, sudah bisa menghasilkan apa, sekolahnya bener apa enggak, ibadahnya gimana, sudah siap mandiri apa belum, visi misi dan tujuan nikahnya apa, hubungan dengan orang tuanya gimana, boleh gak sama orangtuanya, cita-citanya apa, setelah nikah mau ngapain. Ya gitu-gitu lah standar cowok kalau mau nikah. Begitu juga hal itu akan ditanyakan ke calon mantu, jika anak kita cewek. Kalau salah satu dari syarat itu gak oke, ya gak boleh lah. Benerin diri dulu baru boleh nikah.
Saya: Lah kalau anak kita cewek boleh gak nikah muda?
Suami: Emm.....
Saya: Gimana?
Suami: Gimana ya, kalau cewek jangan dulu deh kecuali cowoknya sudah lebih dewasa baik secara umur maupun mental. Terus anak kita (yang cewek tadi) juga harus dewasa secara mental, gak emosian, gak ababil, gak suka ngeluh, mandiri, ibadahnya sudah bener, berbakti pada orang tua, blablabla....
Saya: Jadi kalau anaknya cewek lebih susah ya diijinin kawin, eh nikah muda? Kalau pacaran gimana?
Suami: Sebisa mungkin gak pakai pacaran-pacaran lah, mau itu cowok atau cewek. Langsung nikah aja asal syarat tadi sudah kumplit.
Saya: Ooohh... Lah mas, kalau sudah kumplit syaratnya terus tetep mau nikah mas mau bantu2 finansial gak? Kan anak segitu gak banyak yang udah berpenghasilan layak tuh....
Suami: Ya lihat sikon. Tapi menurut mas ya, kalau anak, terutama cowok, sudah pengen nikah tandanya harus sudah mandiri secara finansial. Kalaupun bantu-bantu ya seperlunya aja, gak bisa nanggung seluruh hidupnya. Pun kalau anak kita cewek dan mau nikah muda, calon suaminya juga harus sudah memperhitungkan itu. Dia punya tanggung jawab penuh menghidupi istri dan anaknya, kan sudah diserahin mandat sama bapaknya (si cewek). Kalau kebanyakan ngebantu, nanti ortu jadi kayak intervensi dong di rumah tangga anak, jadi gak mandiri.
Saya: Iya sih... Tapi kalau ternyata anak kita gak punya duit atau apa gitu buat kehidupan paska nikahnya gimana?
Suami: Ya makanya syaratnya tadi mesti kumplit. Harus tahu abis nikah perencanaanya gimana-gimana. Bener kalau rejeki gak boleh takut, tapi kalau gak dihitung ya sama aja boong dong. Tapi yang paling penting ibadah dan sekolahnya harus bener. Juga hubungan keluarganya harus baik dan seimbang. Emang ngapain sih tiba-tiba ngobrolin begini, Cin?
Saya: Ya gak apalah, ngobrol masa gak boleh, huuuu... Anu sebenernya gegara 'ngasal' komen pengen nulis tema serupa di FB grup blogger, eaah abis itu jadi pusiang deh mau nulis apa. Nantangin diri sendiri sih. Hehehe....
Suami: Wuuu dasar...!
Yaak jelas ya, kira-kira sikap apa yang kami ambil ketika suatu saat nanti sang anak minta nikah dini. Yang saya tangkap sih Mr Suami ingin anaknya menikah setelahh lewat usia belasan tahun. Alias gak tujuh belas tahun jugaa keleeess boleh kawinnya, hahahhaa... Pun dengan saya, rasanya boleh dong sayang-sayang, udah dirawat selama itu, eh baru umur belasan udah mau hidup baru dengan orang lain, aku jelas belum rela *bibit rabid mom*. Umur-umur matang nikah aja dah, 23 keatas *ini sih umur2 warga +62 yaaa, hahahaa*
Nah jika sudah dirasa cukup umur, biar bapaknya yang ngomong dan ng-uji langsung, baik anak maupun calon mantunya. Saya bagian mengulik data dari keduanya aja deh, hewhew... Serius loh! Saya punya rencana, kalau nanti punya calon mantu, saya akan cek-cek rekam jejaknya, baik secara langsung maupun tidak, bisa melalui wawancara orang terdekat, misal sahabat, atau melalui sosial media. Hati-hati lho, nilainya bisa minus satu-per satu manakala:
Suka mengeluhkan diri sendiri dan orang lain
Suka menuliskan kejelekan orang lain dan keluarga --> berpotensi menjelekkan pasangan dan keluarga
Suka menyindir pihak lain apalagi dengan bahasa gak sopan
Suka posting foto seronok
Suka membully orang lain
Suka marah-marah, sumpah serapah, memaki-maki
Suka memposting hoax dan berita-berita tidak jelas
Suka mengadu domba
Suka ngeyelan, fanatik buta dan sempit
Suka pamer yang kebangetan
Punya banyak mantan pacar
Solat wajibnya suka bolong-bolong
Kerjaanya gak pasti dan menyerempet hal-hal yang dilarang agama
Keluarganya ada yang gak ikhlas
Dan hal negatif lainnya.
Yaaa, bukannya sok suci atau merasa paling benar sendiri. Saya tahu semua orang punya salah dan khilaf, tapi ya gak terus-terusan. Lagian mencegah lebih baik daripada mengobati, toh masih diberi kesempatan memilih diantara opsi yang masih buanyaaaaak sekali. Anggep aja fungsi saya nanti semacam HRD yang akan menyeleksi karyawan, baik laki atau perempuan semuanya diperlakukan sama. Tapi insyaAllah gak akan milih-milih berdasarkan status sosial, misal harus anak pejabat, bangsawan keraton, anak jendral, anaknya ini itu cem macem. Gak mau juga kalau njomplang soalnya. Masa sini masih karyawan dapat besan direktur, aduh malah serem sendiri. Intinya asalkan secara umum baik dan berasal dari keluarga baik-baik mah silahkeun. Tujuannya tentu saja agar pernikahan yang dilakukan kaffah, baik dan berkah, bisa saling support ketika salah satu ada yang down, bisa saling memberikan solusi jika ada masalah dll. Caranya ya dengan memilih yang terbaik dari yang baik-baik. *berasa besok mau mantu, padahal punya anak juga belum, xixixixi*
Fiuuh....
\\
Saya: Jadi kalau anaknya cewek lebih susah ya diijinin kawin, eh nikah muda? Kalau pacaran gimana?
Suami: Sebisa mungkin gak pakai pacaran-pacaran lah, mau itu cowok atau cewek. Langsung nikah aja asal syarat tadi sudah kumplit.
Saya: Ooohh... Lah mas, kalau sudah kumplit syaratnya terus tetep mau nikah mas mau bantu2 finansial gak? Kan anak segitu gak banyak yang udah berpenghasilan layak tuh....
Suami: Ya lihat sikon. Tapi menurut mas ya, kalau anak, terutama cowok, sudah pengen nikah tandanya harus sudah mandiri secara finansial. Kalaupun bantu-bantu ya seperlunya aja, gak bisa nanggung seluruh hidupnya. Pun kalau anak kita cewek dan mau nikah muda, calon suaminya juga harus sudah memperhitungkan itu. Dia punya tanggung jawab penuh menghidupi istri dan anaknya, kan sudah diserahin mandat sama bapaknya (si cewek). Kalau kebanyakan ngebantu, nanti ortu jadi kayak intervensi dong di rumah tangga anak, jadi gak mandiri.
Saya: Iya sih... Tapi kalau ternyata anak kita gak punya duit atau apa gitu buat kehidupan paska nikahnya gimana?
Suami: Ya makanya syaratnya tadi mesti kumplit. Harus tahu abis nikah perencanaanya gimana-gimana. Bener kalau rejeki gak boleh takut, tapi kalau gak dihitung ya sama aja boong dong. Tapi yang paling penting ibadah dan sekolahnya harus bener. Juga hubungan keluarganya harus baik dan seimbang. Emang ngapain sih tiba-tiba ngobrolin begini, Cin?
Saya: Ya gak apalah, ngobrol masa gak boleh, huuuu... Anu sebenernya gegara 'ngasal' komen pengen nulis tema serupa di FB grup blogger, eaah abis itu jadi pusiang deh mau nulis apa. Nantangin diri sendiri sih. Hehehe....
Suami: Wuuu dasar...!
Yaak jelas ya, kira-kira sikap apa yang kami ambil ketika suatu saat nanti sang anak minta nikah dini. Yang saya tangkap sih Mr Suami ingin anaknya menikah setelahh lewat usia belasan tahun. Alias gak tujuh belas tahun jugaa keleeess boleh kawinnya, hahahhaa... Pun dengan saya, rasanya boleh dong sayang-sayang, udah dirawat selama itu, eh baru umur belasan udah mau hidup baru dengan orang lain, aku jelas belum rela *bibit rabid mom*. Umur-umur matang nikah aja dah, 23 keatas *ini sih umur2 warga +62 yaaa, hahahaa*
Nah jika sudah dirasa cukup umur, biar bapaknya yang ngomong dan ng-uji langsung, baik anak maupun calon mantunya. Saya bagian mengulik data dari keduanya aja deh, hewhew... Serius loh! Saya punya rencana, kalau nanti punya calon mantu, saya akan cek-cek rekam jejaknya, baik secara langsung maupun tidak, bisa melalui wawancara orang terdekat, misal sahabat, atau melalui sosial media. Hati-hati lho, nilainya bisa minus satu-per satu manakala:
Suka mengeluhkan diri sendiri dan orang lain
Suka menuliskan kejelekan orang lain dan keluarga --> berpotensi menjelekkan pasangan dan keluarga
Suka menyindir pihak lain apalagi dengan bahasa gak sopan
Suka posting foto seronok
Suka membully orang lain
Suka marah-marah, sumpah serapah, memaki-maki
Suka memposting hoax dan berita-berita tidak jelas
Suka mengadu domba
Suka ngeyelan, fanatik buta dan sempit
Suka pamer yang kebangetan
Punya banyak mantan pacar
Solat wajibnya suka bolong-bolong
Kerjaanya gak pasti dan menyerempet hal-hal yang dilarang agama
Keluarganya ada yang gak ikhlas
Dan hal negatif lainnya.
Yaaa, bukannya sok suci atau merasa paling benar sendiri. Saya tahu semua orang punya salah dan khilaf, tapi ya gak terus-terusan. Lagian mencegah lebih baik daripada mengobati, toh masih diberi kesempatan memilih diantara opsi yang masih buanyaaaaak sekali. Anggep aja fungsi saya nanti semacam HRD yang akan menyeleksi karyawan, baik laki atau perempuan semuanya diperlakukan sama. Tapi insyaAllah gak akan milih-milih berdasarkan status sosial, misal harus anak pejabat, bangsawan keraton, anak jendral, anaknya ini itu cem macem. Gak mau juga kalau njomplang soalnya. Masa sini masih karyawan dapat besan direktur, aduh malah serem sendiri. Intinya asalkan secara umum baik dan berasal dari keluarga baik-baik mah silahkeun. Tujuannya tentu saja agar pernikahan yang dilakukan kaffah, baik dan berkah, bisa saling support ketika salah satu ada yang down, bisa saling memberikan solusi jika ada masalah dll. Caranya ya dengan memilih yang terbaik dari yang baik-baik. *berasa besok mau mantu, padahal punya anak juga belum, xixixixi*
Fiuuh....
\\


