Pages

  • Home
  • About Me
  • Halo Ahza!
  • Travel Notes

ad astra per aspera

.... then which of the favours of your Lord will ye deny?


Sudah lama sebenernya pemikiran tentang ini. Yakni tentang bagaimana menyikapi tulisan atau sharing dari orang lain. Terutama dari para "influencer". Kenapa influencer-nya pake tanda kutip? Karena sekarang banyak bermunculan orang-orang biasa yang tiba-tiba punya follower bejibun, khususnya di Instagram. Kalau di IG saya sekarang, yang lagi sering muncul adalah "mom-influencer" yang isi postingannya terkait seluk beluk anak dan parenting tips.

Setelah jadi ibu, saya baru tau ternyata ada banyak sekali para ibu yang menuliskan aneka cerita tentang anaknya. Ada tips asi, mpasi, resep mpasi, sharing berobat, terapi, dokter, imunisasi dan lain-lain. Banyak dari tulisan-tulisan itu berguna buat saya yang masih newbie dalam dunia motherhood. Walaupun ada pula yang agak berseberangan pendapat. Nah kalau ndilalah nemu bagian yang berseberangan biasanya gak saya ikuti lagi, kawatir jadi galau lalu jadi gak yakin. Padahal saya sudah berusaha mencari ilmunya melalui sumber yang lebih terpercaya dan dibuat oleh pihak yang kompeten. 

Dalam hal apa sih yang biasanya berseberangan pendapat? 

Sejauh ini sih hal-hal yang berkaitan dengan penanganan anak sakit yang umum terjadi (common cold). Saya note ya, sakit-sakit yang biasanya menjadi langganan anak dan dewasa, seperti batuk pilek, diare, keringat buntet, dll. Saya paham hal tersebut tidak lantas kita sepelekan. Kita harus tetap waspada, tapi diusahakan kepala kita tetap dingin. Tujuannya agar tidak panik sehingga bisa rasional dalam berpikir dan bertindak.

Jadi dari beberapa influencer tsb, selain berbagi cerita yang cukup detail, juga ada yang dengan rinci berbagi nama obat. Walaupun dalam postingan tsb sudah diberikan disklaimer "tiap kasus sakit obatnya mungkin beda", tapi tetap saja, menurut saya tulisan tsb punya potensi misleading oleh follower-nya. Apalagi jika follower-nya awam dan maunya instan. Bahaya banget jika sampai diikuti, padahal tiap kasus bisa beda penanganan. 

Contoh kasusnya begini: seorang momfluencer cerita kalau anaknya batuk pilek, kemungkinan karena virus (ditulis di postingannya), demam tinggi hingga 39 derajat celcius. Panik kan.. lalu ke dokter dan diberikan obat-obatan yang terdiri dari puyer yang berisi antibiotik, vitamin daya tahan, dan paracetamol. Si momfluencer tsb juga bilang bahwa dia gak mau ambil resiko ada apa2 jadi pasrah aja dapat obat tsb, yang penting anaknya segera sembuh. Karena follower-nya banyak, sampai ribuan, komennya pun banyak. Ada pro kontra terhadap obat yang diberikan. Yang pro intinya yang penting anak cepet sembuh dan nurut aja sama dokternya apapun obat yang diresepkan. Sedangkan yang kontra berusaha memberi masukan bahwa untuk sakitnya tsb seharusnya tidak perlu antibiotik. Karena si momfluencer tsb sudah state diawal bahwa dia tipe orang yang nerimo yang penting anak cepet sembuh, ya di pro komen-komen yang ada pro. Komen yang kontra kena sikat miring deh.. wwkwkwkk.... 

Bagaimana menurut saya? Kalau saya memposisikan diri di pihak ibu momfluencer, mungkin kesel kali ya, wong anak lagi sakit eh malah dapet komenan macem-macem. Pengennya ya toss sama yang pro aja. Tapi kalau berkepala dingin, harusnya dia siap menerima konsekuensi dari sharing yang sudah dibuat dan di-publish ke umum. Kecuali yang bahasanya kasar dan judging hingga menyayat hati boleh lah ditebas dulu biar gak makin badmood. HAHAHA... Kalau hati dan kepala dingin, tentu lebih bisa open mind, menerima masukkan dari follower yang ternyata kalau diperhatikan background-nya ada juga yang dokter (yang rasional alias pro RUM). Ada pula yang mencantumkan referensi valid. Bukan lantas 'ngata-ngatain' yang kontra.... kalau kayak gitu kan jadinya blunder. Emosi sih emosi, tapi keep cool atuh bunda... :D. Tanggapin aja dengan "Oh, gitu ya? Wah nanti coba saya baca-baca referensinya, bla..bla..bla...."

Nah, kalau saya termasuk follower yang pro atau kontra? 
Mana hayo manaa??
-------------
Baique, pertama, saya gak nge-follow dia, ndilalah aja IG nya muncul di feeds. Lalu saya buka-buka karena penasaran, kok bisa ibu-ibu biasa follower-nya bejibun. Setelah ditelusuri ternyata karena dia termasuk buibu yang "sharenting"  - parents share anythings *abaikan, kepanjagan yang ngaco* Lalu ketemulah postingan seperti diatas itu. Yo bye, gak jadi saya follow, karena apa? Karena saya kontra. Hehee... Daripada-daripada kan... misal saya gatel pengen komen 'meluruskan' tapi malah bikin dosa pada orang lain yang saya gak kenal, berabe. Masak nanti susah masuk surga gara2 nyangkut hal remeh gituan... *ibaratnya begitu, gak usah ngambek kalau saya nulis surga-surgaan, semua orang pen jadi ahli surga kan? 

Saya kontra terhadap obat yang diberikan dokter tsb. Karena sakitnya si anak disebabkan oleh virus yang sependek pengetahuan saya obatnya bukan antibiotik. Menurut referensi yang dijamin valid seperti IDAI dan milissehat, penanganannya hanya banyak minum agar tidak dehidrasi. Sesekali diberi paracetamol jika demam diatas 38 derajat celsius dengan tujuan utama lebih untuk menyamankan anak (agar mengurangi rewel). Selebihnya malah disarankan untuk sabar dan gendong, oleh dokter andalan, dr Arifianto, SpA. 

Meskipun kontra, saya malas ikutan komen. Selain karena alesan diatas (yang surga2 itu tuh) juga karena si momfluencer tsb tidak cukup open mind dalam menerima masukan even yang disampaikan dengan bahasa sopan. Defensif banget lah pokonya....

Di kasus ini lalu saya jadi keinget seseartis yang menuai masukan (tapi lama-lama menjadi hujatan) dari banyak ibu2 karena gaya parenting-nya yang dianggap antimainstream. Saya mencoba mengerti kekuatiran ibu2 kontra tsb terhadap follower-follower awam-nya si artis. Tapi jika kemudian menjadi penghujat menurut saya sudah kelewat batas. Jaga hati jaga pikiran jaga lidah jaga jari ngapa buibuuk... we are in the same gengs loh, geng ibu2, masak yo saling menghujat. Kalau  hujatannya malah balik ke diri sendiri bagaimana? Atau jari-jari dan mulut kita ditahan sama Malaikat Rokib Atit gimana jal? Lak puyeng kaan masuk surga tapi mulut dan jarinya ketinggalan....

In the end,

Jika kita ada di posisi sebagai follower, atau minimal menjadi pengamat kita mesti inget kita itu tidak bisa mengontrol orang lain posting apapun. Karena ya akun-akun orang, jari-jari orang kan. Mana bisa? Yang bisa dikontrol adalah diri kita *ambil kaca*. Jadi jangan asal 'niru-niru' atau ikut-ikutan. Kalau mau ikutan cari dulu referensinya, baca, pahami, dan cocokkan dengan kondisi kita. Dalam  mencari referensi sebisa mungkin cari yang paling valid dan dari sumber-sumber terpercaya. Jangan berdasar katanya-katanya aja... Jadi kalau ditanya dapat referensi darimana gak asal nyeplos "dari mbah google". Dan kalau menerima informasi, yuuk disaring. Ambil yang kiranya cocok, tapi gak perlu menghujat hal yang berseberangan sama kita. Kalau bisa meluruskan lebih baik, tapi tetep liat situasi yoo... 

Nah jika kita sebagai "tokoh" plisss sharing-nya juga jangan semena-mena. Sertakan sumber yang jelas, beri disklaimer juga gak apa-apa untuk antisipasi meskipun gak jaminan. Dan jadilah tokoh yang open mind. Kalau pun berseberangan pendapat sampaikan dengan baik juga, gak perlu defensif atau ngotot. Karena diatas langit masih ada langit....

Wes, gitu aja tulisan random kali ini... semoga bisa dimengerti dan jangan baper plis kalau you merasa. Hehehee (kayak ada yang baca aja.. 😅)

Btw, dengan maraknya sharenting ini, lama-lama saya jadi males untuk ikut2an sharing macem2 tentang Ahzapaw di sosial media. Males kalau nanti terjadi hal-hal diluar ekspektasi. Selain itu saya takut tenar *halaaah* . Share secukupnya dan sesukanya aja macem foto lucu2 dengan caption singkat. HAHAHA

\\

Gambar: https://cdn-images-1.medium.com/


Share
Tweet
Pin
Share
4 Comments

Saya pernah membaca sebuah artikel yang kurang lebih salah satu isinya adalah "wanita itu sukar membaca peta dan arah". Sekali baca saya langsung manggut-manggut, setuju. karena saya pun demikian, paling sebel sama urusan mencari jalan, meski tetep pengen jalan-jalan ala backpaker. hehehe.. Jika ada wanita petualang yang mahir peta, saya jempolin deh. Mantap!

Nah semakin canggih teknologi, semakin gampang pula mencari informasi, termasuk informasi lokasi suatu tempat. Jaman dulu, kalau pengen tahu Surabaya, kita mesti cek buku peta, dilanjut dengan mereka-reka jalanannya sendiri. Rempong. Jaman sekarang, om Sergey Brin udah bikinkan kita aplikasi dahsyat pencari lokasi, apalagi kalau bukan google map, yang berisi peta lokasi online. Di situ juga disajikan jalanan berikut dengan kondisi aktualnya. Jadi sebelum berangkat kita bisa tahu arah jalanan, macet atau nggaknya, juga alternatif jalan lain yang bisa dilewati. Aplikasi ini benar-benar sangat berguna untuk mencari lokasi yang masih asing dan belum pernah didatangi.

Saya, si orang awam yang sebel nyari jalan, tetep aja gak bisa menghindari penggunaan google map ketika akan bepergian. Ya minimal untuk ngecek trafik biar nggak kejebak macet di jalanan. Bahkan cuma jalan dari Cikarang ke Bekasi doang. Kalau warnanya udah merah menghitam lumayan kan buat pre-info sehingga saya jadi bisa cari alternatif perjalanan.

Meski buta peta dan gak peduli arah, saya sering dimanfaatkan si mamas gembip untuk nyari jalan. Jadi navigator. Selalu, setiap kali kami bepergian. Iya sih alesannya kan doi yang nyupir, gak mungkin matanya mantengin peta melulu, bisa-bisa malah nyusruk. Jadinya saya deh yang kena getahnya. Padahal kan saya mau duduk manis sambil dengerin lagu atau nonton korea atau ngorok, men! Bukan nyari jalan. Tapi demi cinta #preet yasudah apa mau dikata.

Saya punya 2 pengalaman epik melakukan perjalanan yang penuh lika liku dengan modal google map. Yang pertama, waktu mudik Idul Adha tahun lalu. Perjalanan dari Bekasi sampai Palimanan sih lancar jaya, eh begitu masuk Purwokerto mendadak mandeg. Jreg nggak bergerak. Mau gak mau harus nyari jalan alternatif. Ketemu siih... tapi mesti nglewatin lembah dan nembus gunung2. Udah gitu, jalannya cuma muat dua mobil berlawanan arah. Nggak bisa nyalip, kalaupun nyalip ya cuma sama motor. Ya alhdulillahnya sih, jalan alternatifnya pas gak macet, malah relatif sepi. Tapi gara-gara sepi, malah jadi tanda tanya, jangan-jangan salah jalan nih, tapi kok ada plang ijo penunjuk arah ke Kebumen di setiap belokan ya. Manalah waktu itu perjalanan mudik pertama kali, jalanan cuma nebak-nebak kancing doang. Ibu mertua sepanjang jalan jadi istigfar melulu. Hahahaa.... lah saya sendiri yang jadi navigator jadi ikutan dag dig dug. Tapi kami tetap lanjuuut terus, kurleb 1 jam setengah kami ketemu jalur utama lagi. Alhamdulilllaaahhh... lega bin kapok. Kalau si mamas bilangnya "mending gue macet-macetan deh, daripada naik turun gunung". Hah? Hellloo... situ pan suka bete kalau kena macet dikit, bang. *tujesmas*

Pengalaman epik kedua saat saya dan si mamas mengakhiri wisata imlek kemarin. Imlek kemarin kan libur panjang tuh, kami jalan-jalan ke Bogor (ceritanya ditunggu yaa...). Demi menghindari macet yang lebih parah, kami pilih jalan lewat Cibubur lanjut tol Jagorawi. Alhamdulillah perjalanan berangkat lancar jaya. Nah perjalanan pulangnya, saya pengen lewat jalan baru yang intinya dari jalan raya Narogong bisa langsung tembus ke perumahan saya. Kata temen saya sih ada jalannya.Yyawis, begitu sampai jalan raya Narogong, saya set nama perumahan dari "my location" saat itu di goole map. Saya bilang ke mamas, ayo cobain mumpung masih terang. Sekitar jam 4an lah waktu itu. Siapa tahu nyampai rumah bisa lebih cepet. 

Tapi... tahukah apa yang terjadi? 

Ahahahahhahaa... ketawa dulu lah saya kalau inget itu lagi. Kami nyasar di gunung lagi dong bro. Gunungan sampah Bantar Gebang, maksudnya. Ya alloooh, ampuni baim! Awalnya kami eh si mas ding, udah curiga kok sepanjang jalan yang masuk cuma truk sampah oranye doang. Tapi karena dia duduk disamping orang bawel, ya tetep lanjoot sampai ketemulah dengan jembatan timbang plus gerbang bertuliskan "Selamat Datang di TPST Bantar Gebang". Udah nyampe gerbang, bukannya puter balik, kami tetep lanjut jalan dong, karena si google map masih ngasih jalan. Yang ternyata jalanannya sempit, muat satu mobil doang, lewatin kampung, sebagian jeblog, alamaak pokoknya saya abis deh dicemberutin pak supir gambip. Sebel nyesel tapi geli plus ngakak. Konyol, hahaha. Perjuangan berlangsung kurleb 1,5 jam, hingga akhirnya sampai juga di jalanan utama arah ke perumahan. Yang harusnya sampai rumah diprediksi jam 5an, molor jadi jam 6 kurang, solat ashar jadi kebut-kebutan seolah pintu surga hampir ditutup. Hohohoo... 

 
 TKP adegan nyasar itu terjadi

Alih-alih minta maap, saya bilang "tapi cin, kita dapet nilai positif lho, jadi tahu kan gunungan sampah itu kayak gimana, jadi ngerti ooh, bau2an menyengat kala musim ujan sumbernya dari mana, ya dari tempat yang tadiii". "positif gundhulmu," kata si mas menimpali sambil noyor saya. hahahahhaa......

Begitulah, intinya saya itu benci-benci cinta sama si google map. Bencinya sengaja dua kali karena selain sering bikin nyasar, si google map ini juga kadang-kadang bikin rusuh diantara saya dan si mas. Ya gimana gak rusuh, saya yang gak ngerti arah tetep dipercaya sebagai navigator, sementara kalau nyasar saya kena omel pula. Nyalahin yang gunain sih harusnya #tunjukdirisendiri. Kombinasi sotoy plus nggak ngerti arah emang kayaknya kurang cocok mainan google map. :D.. Makanya sebelum bepergian saya antisipasi dengan meminta si mamas cari jalan dulu, kalau udah yakin baru deh hayok jalan. 

Kalau cintanya, karena beberapa kali bikin perjalanan lancar, contohnya waktu jalan ke Garut berakhir dengan lancar tanpa drama, jalan-jalan di Jepang juga lancar, main ke wisata mangrove juga nyampe (psst... mesti sempet nyasar jugak si). Jadi, seandainya dikasih kesempatan jalan-jalan ke Malang, Bali, Padang, atau Singapur harusnya mah lancar juga kan ya... #ngarep.

\\

Share
Tweet
Pin
Share
14 Comments
Kayaknya lagi hot isu "me time" ya? Hmm... saya sih gak ngikutin amat, cuma sempet sekali baca artikel tentang pentingnya me time untuk seorang ibu (semua jenis ibu lho ya). Ada yang me time nya ngeblog, melukis, nyalon, belanja-belanja di mall, hangout dengan teman, arisan dan lain-lain. Yang pasti tujuannya untuk menjaga kewarasan seorang ibu sekaligus istri dalam mengurus suami dan anak-anak. Saya sih setuju banget dengan itu, gak tahu kalau mas anang!

Karena tema tsb sedang hangat, boleh dong ya saya urun rembug tentang me time. Tapi langsung to the point ke contoh me time yang biasa saya lakukan, salah satunya main game. Ada dong ya ibu-ibu gamers atau yang hobi main game? Saya yakin sih ada, karena main game juga sama dengan contoh me time yang lain, bisa killing time & killing stress setelah seharian ngantor cuci setrika masak mandiin nyebokin momong anak ;D. Udah gitu kalau cuma main game di hape atau pc mah muraah dan gak perlu kemana-mana. Paling siap-siapin kuota internet aja yang banyak, kalau mainnya game online. Jangan cuma bapaknya doang atuh yang boleh main game. #piss bapak bapak.

Nah ini beberapa game yang pernah dan sering saya mainkan:

1. Candy Crush (CC)


Game besutan Kingsoft ini dimainkan dengan cara menempelkan permen warna warni yang setipe agar hancur dan dapet poin. Tingkatan atau level di game ini banyak sekali, sampai ratusan. Rasanya gak tamat-tamat mainan ini. Level terakhir saya ada di 100an berapa gitu. Awalnya asik banget, tapi lama-lama bosen dan bete juga. Gak naik-naik level sih. Hihihi. Apalagi makin kesini game ini bikin hape makin cepat panas. Yaudin deh terpaksa saya uninstall demi keamanan hape dan hati gegara gagal melulu menuju level selanjutnya. :D

2. Farm Heroes Saga (FHS)


Game yang cara mainnya mirip dengan CC ini juga buatan Kingsoft. Ceritanya, setelah patah hati dari CC, saya langsung kepincut dengan game ini. Alesannya cuma karena bentuk "tokohnya" berupa sayuran dan buah mini yang lucu dan imut. Terus suara latar belakangnya lebih enak dikuping *dangkal, haha*. Pas dimainkan, eeh lah kok lebih cepet kecapai levelnya, gak lambat kayak CC, ya sok mari lanjut teros sampai level 380an. Prestasi? Belom ternyata, karena waktu pengajian RT saya mergoki ada salah satu buibu yang udah sampai level 800an. Edyaan! Me time-nya mantep banget ya, me time melulu kayaknya si ibuk mah *lalu dikemplang* alhasil kita jadi punya bahan obrolan deh gara2 FHS ini.

3. Hay Day


Game ini santaaaiii banget mainnya. Isinya tentang beternak dan berkebun. Semacam game simulasi gitu. Cara mainnya: kita harus menanam dan beternak sesuai target yang telah ditentukan di tiap level. Hasil bercocok tanam tersebut dipakai sebagai bahan baku produksi susu, keju, kue, sirop, dan lain-lain. Pada level awal, kita cuma disediain ayam, kambing, tanaman padi dan jagung untuk dikembangbiakkan. Kalau udah sampai level tinggi kita bisa mendirikan pabrik dan memancing ikan. Seru!

Yang menarik dari game ini adalah animasinya yang lucu. Semua hewannya dibuat gendut-gendut menggemaskan. Apalagi babi dan dombanya. Minta digembosin banget. Hhaha. Sayangnya, tantangan di game ini gak bikin jantung se-deg-deg-an CC atau FS. Inilah yang lama-lama bikin bosen. Makanya setelah bosan, saya uninstall deh dari hape.

Oiya, game ini juga lumayan berat, jadi kalau mau install lebih baik di hape dengan ram yang gede, minimal 2 GB, biar gak ngos-ngosan dan cepet panas hapenya.

4. Feeding Frenzy (FF)


Tiga game sebelumnya saya mainkan di hape, nah kalau FF ini saya mainkan di PC. Tapi ini game lama ya. Saya juga mainnya dulu banget jaman masih kuliah. Tapi masih inget dan masih punya file masternya sampai sekarang.

Game ini isinya caplok-caplokan ikan sesuai target yang ditentukan disetiap level.  Di setiap level kita dikasih satu ikan ukuran kecil. Nah tugas si ikan itu makan-makanin ikan yang ukurannya lebih kecil hingga badannya membesar. Musuhnya tentu saja ikan yang lebih besar dan ikan predator. Sifatnya yang kejar-kejaran dengan musuh ditambah batasan waktu itulah yang bikin game ini seru. Bahkan saya sampai teriak-teriakan kalau dikejar oleh predator. Rusuh lah di kamar sendiri. Hihi....

5. Puzzle Express (PE)


Game berbasis PC ini dimainkan dengan cara menyusun puzzle diatas gerbong yang dikasih target waktu. Karena pakai waktu, sifatnya ya cepet-cepetan. Kalau waktunya habis sebelum puzzle tersusun dengan benar ya bubar. Gagal menuju level selanjutnya. Game ini ringan banget gak pake mikir. Cas ces cas ces langsung deh nyampe level akhir. Mungkin karena sifatnya offline, levelnya jadi sedikit.

6. Onet


Ini game sepanjang masa. Dulu saya mainnya di PC, tapi sekarang bisa main di hape. Mainnya dengan menjodohkan 2 gambar sejenis untuk mendapatkan 1 skor. Permainan ini dibatasi oleh jumlah nyawa dan waktu. Levelnya sebenernya gak banyak, tapi bok dari masih kuliah sampai sekarang saya belom pernah sekalipun namatin si onet sampai level terakhir. Selalu saja kehabisan nyawa yang cuma 3 kayaknya.

Satu hal yang menyebalkan dari game ini, yaitu backsound-nya yang kenceng banget dan ngagetin. Pokoknya daripada malu, mendingan di-mute deh itu suara. Gak lucu kan waktu nyetel si onet ada yang melirik melotot ke kita gara-gara suaranya yang kuenceng bin menyebalkan itu. Hihihi.

..................................................................................................................................................................

Sebenernya masih ada banyak game yang saya suka. Tapi males ah nulis panjang-panjang, tangan akika keriting bok. Secara keseluruhan, game yang pernah saya mainkan bukanlah game yang memusingkan otak ataupun yang bikin jantung berdebar-debar. Paling cuma teriak-teriak cantik doang. Ngagetin orang di sebelah dikiiit :p. Game-game kelas berat macem COC, Counter Strike, perang-perangan, dan game "cowok" lainnya mah saya gak demen. Bahkan ngelirik aja muales. Makanya waktu si mamas mengajukan pembelian PS4 acc-nya dipersusah, birokrasinya berbelit-belit ala jargon "kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah" gitcuu deh. E, tapi dasarnya panjang akal, beberapa waktu yang lalu dese pulang kerumah udah dengan tentengan Xbox game aja. Tak lupa dese beli satu dvd game cewek buat saya. Biar seken yang penting murce, begitu katanya. Huft, ngelesnya bisa aja bang! HAHAHA. Kecolongan guee!!

Udah game-nya cemen, eh saya mainnya juga gak pake otak. Sama sekali! Saya mah asal nemplok-nemplokin aja kalau main CC dan FSH. Menang syukur gak menang yasudah. Gak menang-menang juga setelah sekian lama? Ya uninstall. Ngapain main game pake mikir, ngurang-ngurangin umur aja. Wkwkwkwk....

Kan ada tuh orang yang sifatnya kompetitif abis, termasuk urusan game. Biasanya sih cowok-cowok yang begini, sampai dibela-belain beli gem *yang korban COC ngakuu* atau beli nyawa online. Totalitas beneeer. Bahkan waktu booming-booming-nya Flappy Bird, sampai ada kompetisinya segala loh. Dikantor! Hahaha. Sama kek sekarang, yang lagi booming kan Duel Otak. Yaelaah sampai ada yang gimanaa gitu cuma gegara kalah skor dari lawannya. Padahal mah soal-soal di game itu pan cuma diputer-puter aja. Hahaha... ada-ada aja.

Kalau kamu, suka game apa?

Note: gambar diambil dari google dan youtube.

\\
Share
Tweet
Pin
Share
16 Comments



hayo bagi yang fesbukers, siapa yang suka dan sering berbagi tulisan/artikel dengan judul-judul senada tema dibawah ini? terus biasanya suka di tag ke suami dan di-share to all friends, bahkan global. eh atau ada gak suami yang sering banget dicolek istri dengan caption "cc suamiku xxxx" atau "baca ini dong pap"  atau yang lebih nendang "makanya gini dong yah kalau sama mamah... cc: mr x" di lini masanya? rasanya gimana? seru, biasa aja, atau gak ngaruh apa-apa? nikmati aja, gak ada yang salah kok, toh fesbuk-fesbuk sendiri ya suka-suka dong :D. 


"buat para lelaki: jadikanlah pasangan anda yang paling ini dan itu"
"menemani istri belanja lebih berpahala daripada ke mesjid"
"ini dia pasangan yang saling menyakiti dan dia yang baik hati bla blaa"
"tentang surat ayah kepada calon menantu lelakinya"
"dear suami... (curhatan istri)"
"cintailah istrimu maka rezeki akan mengalir"
"istri yang akan mendampingi selalu sampai akhir hayat, jangan sia-siakan"

tulisan-tulisan macem begitu memang lagi marak di fb, baik yang bertema wanita maupun pria. tapi sepertinya lebih banyak wanita yang memviralkannya, dengan tujuan satu: untuk pasangannya. sebenernya tulisan tsb gak ada yang berisi hal negatif. malahan isinya berupa nasihat-nasihat membangun hubungan yang baik antar pasangan, khususnya bagi yang sudah menikah. bahkan tak sedikit yang mengandung ajaran agama. berbeda dengan tulisan yang tujuannya murni menyindir (biasanya isinya tulisan orang patah hati kepada mantan atau pacar yang gak setia atau bikin jengkel. hahaa). hanya saja kalau di share ke pasangan (suami) tapi di-cc umum kok saya risih ya... karena eh karena kalau saya baca-baca, isi dari tulisan-tulisan tsb seolah berpihak kepada salah satu aja, dan semi curhat. semacam tuntutan terselubung kepada pasangan di depan orang banyak. pun dalam benak saya, orang yang nge-share tulisan semacam itu biasanya pas kondisinya sedang dalam ketidakpuasan, sebel, males, bete, jengkel atau hal-hal lain yang berhawa negatif terhadap pasangan, meskipun gak selalu juga sih. yang lucu tulisan untuk pria yang ngeshare wanita, atau sebaliknya. kan pas dibaca jadi gimanaaa gitu, menurut saya hlo. dan ternyata pikiran saya kok ya sehati dengan suami, yang komentarnya kurang lebih begini "halah ngapain kayak gitu di-share umum, malah ngelihatin lagi ada apa-apa dirumahnya". hohoho... ini memang urusan perspektif ya, orang lain pastinya punya pandangan yang berbeda dengan kami.

karena banyak tersebar di lini masa, jadinya ya saya baca juga, baik pas kondisi mood baik atau buruk. kadang-kadang saya kasih tau juga tulisan itu ke suami, tapi sangaaat jarang saya bagi di depan umum. biasanya saya minta dia baca langsung pake hape saya, atau saya bagi secara privat, makanya saya terima kasih banget fb punya tombol "close friend" di bagian "who can see this post" pada pengaturan sharing post. tentu saja very bery closed friend saya setting hanya untuk suami, sebagai pengganti tombol "spouse" yang belum dibikin sama fb. bagi saya, pengaturan-pengaturan ini penting demi menjaga nama baik keluarga, dan mengurangi potensi prasangka orang yang melihatnya. lawong yang belum nikah aja ketika posting sesuatu yang nyerempet-nyerempet pasangan bisa bikin orang kepo, apalagi kalau udah nikah. tugas pasangan kan menjadi baju pasangannya, bukan pasangan tetangganya ya :P.

eh tapi, jika gak ada orang yang menyebarkan tulisan-tulisan tsb ke ranah publik saya jadi gak bisa baca-baca ya? so, saya harus terima kasih juga kepada yang sudah suka rela sharing ya.... :)

tulisan ini lanjutan dari obrolan wanita (1) dan obrolan wanita (2), boleh di cek juga dong kakaa!!

gambar dari: etsystatic.com


\\
Share
Tweet
Pin
Share
5 Comments

sejak satu dua tahun ini jagat per-facebook-an kembali ramai. di indonesia, keramaian ini terjadi terutama setelah hajatan pemilu yang rusuhnya gak kelar-kelar sampai sekarang. padahal -perasaan saya sih- masa-masa sebelum pilpres lini masa facebook [saya] mulai lambat pergerakannya, bahkan cenderung sepi dan... basi. sepertinya hajatan besar 5 tahunan kali ini menjadi sebuah fenomena yang berefek luar biasa pada kecepatan arus informasi facebook indonesia. pun dengan perilaku para facebooker-nya, yang terbagi dalam kelompok-kelompok tertentu baik sebagai lovers maupun haters. hyuuh!

selain isu politik, dunia parenting dan kewanitaan juga turut menyebabkan facebook meramai belakangan ini. kalau diamati, memang dunia parenting sekarang ini sudah berkembang sedemikian pesat dengan memunculkan banyak sekali teori serta ajaran baru yang lebih modern. ditambah lagi, generasi masa kini sangat update, terbuka, dan punya rasa keingintahuan yang besar. begitu juga dengan informasi terkini seputar dunia kewanitaan. yang jaman dulu hanya diperoleh dari majalah dan koran wanita, sekarang bisa ditengok dan diunduh kapan aja di sosial media bahkan saling komentar atau komunikasi dua arah pun bisa dilakukan. memang dari dulu wanita selalu menjadi tema yang informasinya menarik untuk dikulik kan. 

kembali ke dunia facebook, sebagai pengguna loyal, meski sekarang lebih sering jadi silent reader, saya mengamati beberapa hal terkait informasi kewanitaan. hal-hal yang dibahas kebanyakan adalah tips dan cara-cara menjadi wanita yang begini dan begitu. gak sedikit pula yang berisi curhatan terselubung. isu wanita juga gak lepas dari versus-versusan, dan kayaknya gak bakal berakhir sampai akhir hayat deh. bahkan versus-versusan khas wanita inilah yang bikin jagat maya makin riuh bak pasar malem. perdebatan emak-emak paling panas dan gak ada habisnya adalah SAHM dan WAHM, itu loh ibu bekerja di kantor vs kerja di rumah, metode melahirkan (cesar atau normal), metode menyusui (ASI vs sufor), vaksin vs non vaskin, dan metode ina inu yang banyak sekali macemnya. tulisan yang mengulas tema-tema tsb ada kalanya menimbulkan kontroversi. apalagi kalau ditulis dengan bahasa yang very judgmental dan emosional. beehh dipastikan menyulut perang dunia ketiga euy.

ketika menerima informasi dan isu, berbagai macam respon dilakukan oleh wanita. ada yang santai kayak dipantai, woles, cuek bebek, dan tentu saja ada yang baper alias tersinggungan. eh yang judgmental juga ada. efek dari itu, munculah tulisan-tulisan tandingan (# kayak pilpres aja) yang defensif. terus di-viralkan lagi, terus ribut lagi. begitu terus sampai kiamat. biasanya tulisan tandingan tsb juga semi cyurhaat, hahaha. paham sih, karena wanita emang harus dimengerti, begitu kata Ada band. 

terus kalau saya gimana? saya biasanya ambil peran sebagai pengamat sahaja, lebih suka melihat dari berbagai sudut pandang meski [mungkin] ada kecenderungan memilih sesuai dengan kondisi yang saat ini saya jalani. bukan karena plin plan ya, tapi karena saya gak suka dan gak pengen jadi orang yang fanatik buta. terus saya juga gak mau kalau gak konsisten, ya so so aja lah. ambil contoh isu pekerjaan, meski saat ini masih bekerja, saya gak serta merta membanggakan atau kelewat membela diri kalau wanita (ibu) bekerja juga oke dalam mengurus keluarga bla-bla-bla. saya tahu diri kok, siapa tau suatu hari nanti malah kerja di rumah alias jadi IRT. gak mau dong ya, nanti ada yang mencibir "eh, jadi irt juga, bener kan kerja di kantor bikin gak bisa bagi waktu bla...bla....". tapii... saya juga gak suka sama irt yang kelewatan nyinyir ke ibu bekerja dengan kirim meme atau tulisan yang menyindir. saling menghargai pilihan masing-masing aja. toh selama dunia masih berputar, yang namanya status itu bisa berganti kapan saja tanpa pemberitahuan sebelumnya. yang sebelumnya ngantor jadi di rumah, yang di rumah jadi ngantor, yang hamil pertama lahiran normal, hamil berikutnya lahir cesar, yang sebelumnya sukses asi selanjutnya malah sufor. begitulah hidup apa-apa serba dinamis, gak usah ribut ngurusin yang bukan urusannya.

kebiasaan menjadi pengamat ini menyebabkan saya lebih berhati-hati dalam menanggapi isu-isu seputar wanita. saya berusaha jarang atau hampir gak pernah berbagi tulisan yang isinya cenderung memihak satu sisi. lebih enak kalau berbagi yang seimbang, bukan yang menyudutkan. karena saya yakin hal-hal tsb jadi isu yang sensitif bagi wanita dan membuatnya jadi males jawab kalau ada yang bertanya seputar itu. kalaupun saya nanya orang tentang pilihannya, saya gak bermaksud untuk menghakimi, tapi lebih kepada ingin tau atau ya hanya membuka obrolan sekalian mendapatkan pengetahuan baru. ketika saya bertanya lahiran dengan metode apa? cesar ataupun normal keduanya adalah pengetahuan baru bagi saya. toh kalau yang diatas mengijinkan, saya juga akan mengalami. begitu juga ketika saya bertanya masih bekerja atau tidak atau pertanyaan-pertanyaan lain yang berpotensi menyerempet isu-isu panas tsb. 

ah semoga ya buibuu, saya bisa menjaga lidah untuk gak memberikan judgmental ketika mendengar jawaban dari kalian. :D

isu lain tentang wanita yang sedang hot versi on the spot saya yaitu wanita dan suami bisa juga wanita dan pasangannya. tulisan-tulisan tsb gak cuma ditujukan kepada wanita, tapi justru lebih ke pasangan (suami) dengan tujuan agar wanita diperlakukan dengan lebih baik. tujuan yang bagus banget kan ya? hanya saja kadang saya jadi mikir apa iya sekarang makin banyak lelaki kurang baik atau sekarang makin banyak wanita disia-sia? hemm... tulisannya saya lanjut ke post selanjutnya saja ah... ini sudah kepanjangan. #hehee

tulisan lain tentang obrolan wanita (1) ada di sini.

\\





Share
Tweet
Pin
Share
4 Comments
http://www.nic-nagoya.or.jp/en/e/archives/4721

Ketika pergi ke suatu tempat yang jauh (misalnya ke luar kota, luar pulau, atau luar negeri), kita pasti akan mengalami semacam perasaan kaget, kagum, sebel dan lainnya begitu sampai di tempat tersebut. Karena kita pasti akan menemui banyak hal baru yang mungkin berbeda, terutama yang berkaitan dengan budaya. Keadaan ini bisa disebut sebagai bagian dari kondisi gegar budaya (culture shock). Gegar budaya sendiri diartikan sebagai perasaan disorientasi, kebingungan, dan perubahan emosi yang terjadi ketika seseorang berkunjung atau tinggal di budaya yang berbeda.

Share
Tweet
Pin
Share
4 Comments

"Say, sini deh. Gw nemu barang bagus ni. Menurut lo mending yang ini apa itu?"
"Hai cyiin, tau gak yang kemarin itu ternyata endesbre endesbree...!!
"Eh, tau gak, jaman dulu gw kecil begini begitu begini begitu..."

Hei wanita cewek cewek sekalian, klo lagi ngumpul pada ngobrolin apa aja sih?

Abege-abege pasti pada ngobrolin tentang sekolahan, kalau yang masih bener pe-er akan jadi tema obrolan. Kalau yang alay ya ngobrolnya seputar behel, softlens, dslr dan ipad atau tablet pc #gak tau pakainya yang penting gaya#. Kalau yang standar ya ngobrolin gebetan kemudian patah hati dan kakak kelas yang jutek atau temen sekelas yang nyebelin.

Kalau mahasiswi tingkatan obrolannya udah lebih tinggi dan jadi berjenjang sesuai semester dan beberapa uda terkotak-kotak jadi kelompok tertentu. Yang sukanya hangout ya seputar tempat makan cihuy dan area jalan yang lagi hepening. Yang hobi politik udah mulai bisa komen-komen masalah perpolitikan indonesia dengan gaya idealis. Yang suka science dan riset hidupnya buat ngobrolin riset. Kalau yang study minded bisa-bisa nonton bioskop sambil analisis sistem pemutaran film. Hahaha. Yang jadi ratu kos-kosan hobi banget ngegosipin sesama anggota kosan. Yang uda semester akhir isi timeline-nya pasti galau skripsi. Yang udah lulus bisa tentang galau sebagai jobseeker atau husband hunter #gahar :D.

Masuk dunia kerja, wanita-wanita ini diawal tahun kerja akan sering nulis status tentang kerjaan dan tempat kerjanya, mulai dari status seneng bin bangga sampai yang mau kudeta kantornya karena ternyata kayak kerja di neraka. Saat di reunian banyak para wanita fase freshgrad ini yang hobi ngobrolin hal-hal confidential seputar kerjaan, pangkat dan gaji. Oouww! Terus yang lemah hati jadi iri-irian dan siap-siap sebar cv lagi. Beda lagi obrolan cewek-cewek yang udah ngerasa kelamaan kerja sampai hampir lupa mikirin buat cari pasangan. Akibatnya kecolongan galau lagi, diperparah dengan liat sesamanya yang udah ganti topik obrolan seputar pasangan dan keluarga. Di lini masanya beberapa kali pasang status kode kalau udah pengen kewong. Ya kan?

Nah bagi para wanita yang masuk fase akan menikah obrolan awalnya berubah jadi seputar wo, vendor2 nikahan, mua, kebaya, dll. Termasuk juga ngobrolin calon suami yang begini begitu. Nanti sesudah nikah dan punya anak tema obrolan berubah jadi seputar parenting, asi, dan yang gak abis2nya ngebahas working mom atau full time mother. Beberapa juga ada yang bahasannya seputar pencapaian hidup baik material atau nonmaterial. Harta benda  pangkat dan jabatan makin bejejer di lini masa. Beeh! Kepuasan sekaligus kesenepan batin sih. #terustutupfacebook, kecuali bagi yang kuat iman.

Banyak juga ye gw nulisnya. Kirain teh dikit. Hahaha. Namanya juga obrolan wanita. Pada umumnya sih tema-tema diatas yang akan tetap hangat jadi bahasan para wanita menurut pengamatan gw akhir-akhir ini.

#ah wanita..!

gambar pinjem di sini
\\
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
socialite
Pernah dengar kata sosialita? tentunya ya seiring maraknya acara gosip selebriti di TV. Secara umum sosialita adalah sekumpulan orang yang gemar dengan hal-hal yang berbau elite, VIP, mewah, glamour, luar biasa, pokoknya yang wah wah deh. Itu definisi saya sih. Menurut salah satu sumber di media masa bahwa tidak semua orang kaya bisa disebut socialite. Tidak semua pemilik tas tangan seharga ratusan juta rupiah bisa masuk jajaran kelas elite itu. Menurut pengamat gaya hidup Hanifa Ambadar, kebanyakan socialite (sosialita) memang sudah terlahir sebagai sosialita karena keluarganya berasal dari kalangan tingkat atas, konglomerat, dan termasyhur. Contohnya, keluarga Rockefeller, Kennedy, Trumps, dan Hilton.

Selain yang terlahir, ada juga yang statusnya sebagai sosialita dicapai dengan usaha sendiri. Ada yang jadi designer slash socialite atau doctor slash socialite, atau karena pekerjaannya yang memang menuntut untuk bergaul dengan kalangan ini, seperti public relations dari industri fashion, pemilik butik, dan lain sebagainya. 

Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Dan umurku dengan sendirinya
akan terus bertambah
Tapi kedewasaan tak mesti
akan menggantikan jiwa kekanak-kanakan
Karena dewasa adalah sebuah pilihan
Karena dewasa butuh pengorbanan
Karena dewasa adalah sebuah kehormatan

sebentar lagi semua akan terganti
berpindah dari yang lama
berganti dengan hari-hari baru
berada dalam kenyataan

indah memang menghadapi tahun baru, 
tapi juga sedih kalau ingat apa yang telah terjadi
selalu ada sesal dan merasa kemarin adalah yang terburuk
dan tak ingin mengulang kembali
tapi yang tersisa tinggal merenungi dan menangis

bersyukur masih bisa menangis
mengingat dan bertekad untuk memperbaikinya

Tuhanku Allahku...
dengan segala keperkasaaNya
adalah Maha Baik
baiiikkkk sekali
sampai malu menerima setiap pertolonganNya
serasa tak pantas

hanya ada satu tekad yang nyata
teriring doa dan harapan

hari baruku adalah yang terbaik
untuk sisa usia yang entah sampai kapan
siapa tahu...
ini adalah yang akhir
akhir dari setiap keping kebahagiaan di dunia

atau sebagai awal untuk benar-benar memasuki dunia baru
yang sebenar-benarnya

bismillahirroh maanirrohiiimmm

aku siap melangkah
menapakinya
semoga selalu di tuntun kedalam kebaikan yang nyata...

amiiin..

\\
 
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Kadang masakan terasa kurang bumbu dan kurang asin, tapi lebih seringnya masakan rasanya terlalu asin. Nyebelin kalo sudah kaya gini. Apalagi ntar pasti ditambah ceriwisan dari sang pengajar—ibu gitu loh… ^_^


Menurut saya selama belajar memasak dirumah, hal paling sulit adalah menakar rasa masakan, susah deh nentuin ukuran garam yang pas harus berapa sendok? Amannya emang mendingan kurang asin. Nah kalo dicicip masih terasa kurang garam, baru ditambah garamnya. Emang sih rasa masakan jadi beda, antara yang ditambah garam karena kurang asin dengan masakan yang asli pas garamnya. Parah lagi klo kebanyakan garam. Wisss… abiz sudah !!! Bisa-bisa harus tanggung jawab dengan masakan itu… haiyaaa…. !!!

Ibu bilang, agar gak kurang atau lebih garamnya, kalo masak harus dengan perasaan. Nah ini yang mesti dipelajarin lebih dalem. Gimana coba ngelatih feeling pas masak. Kuncinya memang harus sering latihan. Jangan nyerah dan putus asa. Jangan malu buat dikritik, antepin aja #lalu-ambil-kresek item-masukkin semua masakan yang salah-lempar ke tong sampah. :D

//
Share
Tweet
Pin
Share
1 Comments


YES ! akhirnya bisa nulis juga. Kemarin-kemarin masih banyak sekali kegiatan yang sulit untuk diduakan, jadi banyak ide nulis yang tertelantarkan, bahkan ada yang hilang entah kemana. Setiap kali ada ide atau hal seru yang muncul di otak, selalu saja terkalahkan untuk hal lain yang lebih urgen. Sampai-sampai rasanya kepala ini mau meledak kebanyakan ide buat nulis tapi tak tersalurkan *lebay*.

Nih sebenernya pas nulis ini juga rasa cape lagi nempel banget dibadan, setelah seharian jaga ujian Autocad 2008 dan buat laporan praktikum RLE. Tapi daripada dibawa tidur dah sore bentar lagi magrib ya mending nulis aja deh. 
Hemm.. jadi ngelantur kemana2 kaan. Jadi temanya adalah lagi pengen berkhayal, alias berandai2 jika ST berubah jadi Ir lagi” Gara-gara beberapa hari terakhir mendengar isu tentang hal tsb.

Pernah terpikir gak pengandaian itu? Inget gak mungkin dulu waktu kecil ditanya cita-cita mau jadi apa? Kayaknya banyak yang jawab ingin jadi Insinyur…wah yang dulu pernah bercita-cita itu sekarang gak akan kesampaian kali ya.. coz Insinyur dah gak ada, diganti ST ( ini buat yang sarjana teknik).
Gak munafik, gelar insinyur di alam pikirku masih terkesan lebih2. Ya lebih oke, lebih elegan, lebih keren. Kalau di 2010 (semoga, insyaallah,amieen) namaku jadi Ir. Tia Putri… WOWW Ajaib!! *ngarep*

Ada pepatah bilang apalah arti sebuah nama. Nah kalo ini “apalah arti sebuah gelar” kalo tidak bias memberikan manfaat untuk sekitarnya. Apalah arti sebuah gelar kalo iman dan takwanya nol, kalo softskill-nya tiarap, kalo gak bisa kerja dengan bener, kalo gak bisa ngehargain waktu, kalo gak yang lain.

So, mari terus berjuang agar nantinya bias saling memberi manfaat daripada sekedar mengejar gelar. Akan lebih bagus lagi kalau kita manfaatkan gelar yang dimiliki untuk berbagi manfaat dengan sesama. Jangan pernah malas melakukan suatu kebaikan, jangan malas untuk belajar, karena belajar bukan hanya textbook, banyak hal yang bisa dipelajari dalam hidup, jangan sungkan untuk bertanya pada yang lebih tahu.

\\



Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me




introvert, simple, cats lover, photograph
writing, sharing, reading & cooking enthusiast


What I Iike

Follow Us

  • Twitter
  • Facebook
  • Instagram

Headline

Ealah, Kena Covid Juga Kan

Jika awal tahun 2020 dimulai dengan banjir air hujan, tahun 2021 kok yaa diawali dengan banjir air mata gara-gara Covid19. Sebuah awalan yan...

Categories

life in my opinion haloahza! traveling resep in my review lovelife #30harimenulis #icip2 motherhood nostalgia cerita umroh diary pregnancy Marriage cerita menyusui parenting random thought MyWeddingDay anniversary teknik industri obrolan wanita worklife

Blog Archive

  • ▼  2022 (2)
    • ▼  April 2022 (1)
      • Kemping Pertama di Hopeland Bogor
    • ►  March 2022 (1)
  • ►  2021 (10)
    • ►  November 2021 (1)
    • ►  October 2021 (1)
    • ►  August 2021 (1)
    • ►  May 2021 (1)
    • ►  April 2021 (1)
    • ►  March 2021 (2)
    • ►  January 2021 (3)
  • ►  2020 (8)
    • ►  December 2020 (1)
    • ►  May 2020 (2)
    • ►  March 2020 (2)
    • ►  February 2020 (3)
  • ►  2019 (23)
    • ►  December 2019 (1)
    • ►  November 2019 (2)
    • ►  September 2019 (2)
    • ►  August 2019 (3)
    • ►  July 2019 (1)
    • ►  June 2019 (1)
    • ►  May 2019 (2)
    • ►  April 2019 (2)
    • ►  March 2019 (1)
    • ►  February 2019 (6)
    • ►  January 2019 (2)
  • ►  2018 (37)
    • ►  December 2018 (9)
    • ►  November 2018 (8)
    • ►  October 2018 (1)
    • ►  September 2018 (2)
    • ►  August 2018 (1)
    • ►  July 2018 (1)
    • ►  June 2018 (1)
    • ►  May 2018 (7)
    • ►  April 2018 (3)
    • ►  March 2018 (1)
    • ►  February 2018 (2)
    • ►  January 2018 (1)
  • ►  2017 (8)
    • ►  December 2017 (1)
    • ►  September 2017 (2)
    • ►  February 2017 (2)
    • ►  January 2017 (3)
  • ►  2016 (65)
    • ►  December 2016 (1)
    • ►  November 2016 (1)
    • ►  October 2016 (4)
    • ►  September 2016 (7)
    • ►  August 2016 (4)
    • ►  July 2016 (3)
    • ►  June 2016 (11)
    • ►  May 2016 (5)
    • ►  April 2016 (8)
    • ►  March 2016 (7)
    • ►  February 2016 (6)
    • ►  January 2016 (8)
  • ►  2015 (26)
    • ►  December 2015 (8)
    • ►  November 2015 (1)
    • ►  October 2015 (4)
    • ►  September 2015 (2)
    • ►  August 2015 (4)
    • ►  April 2015 (3)
    • ►  March 2015 (1)
    • ►  January 2015 (3)
  • ►  2014 (38)
    • ►  December 2014 (2)
    • ►  October 2014 (1)
    • ►  July 2014 (1)
    • ►  June 2014 (5)
    • ►  May 2014 (6)
    • ►  April 2014 (8)
    • ►  March 2014 (4)
    • ►  February 2014 (6)
    • ►  January 2014 (5)
  • ►  2013 (26)
    • ►  December 2013 (3)
    • ►  November 2013 (2)
    • ►  October 2013 (2)
    • ►  September 2013 (4)
    • ►  August 2013 (1)
    • ►  July 2013 (1)
    • ►  June 2013 (2)
    • ►  May 2013 (4)
    • ►  April 2013 (2)
    • ►  March 2013 (2)
    • ►  February 2013 (2)
    • ►  January 2013 (1)
  • ►  2012 (13)
    • ►  December 2012 (3)
    • ►  November 2012 (7)
    • ►  October 2012 (2)
    • ►  July 2012 (1)
  • ►  2011 (1)
    • ►  January 2011 (1)
  • ►  2010 (6)
    • ►  December 2010 (5)
    • ►  April 2010 (1)
  • ►  2009 (5)
    • ►  April 2009 (2)
    • ►  February 2009 (1)
    • ►  January 2009 (2)
  • ►  2008 (33)
    • ►  December 2008 (6)
    • ►  November 2008 (2)
    • ►  September 2008 (3)
    • ►  August 2008 (3)
    • ►  June 2008 (2)
    • ►  May 2008 (2)
    • ►  April 2008 (4)
    • ►  March 2008 (2)
    • ►  February 2008 (1)
    • ►  January 2008 (8)
  • ►  2007 (38)
    • ►  December 2007 (4)
    • ►  November 2007 (1)
    • ►  October 2007 (8)
    • ►  September 2007 (12)
    • ►  August 2007 (7)
    • ►  June 2007 (1)
    • ►  May 2007 (5)
Copyright Tia Putri. Powered by Blogger.

#eatandcook

#eatandcook

#japantrip

#japantrip

Most Read

  • Life begins at 30…
    Pulang Kampung 2026
  • time capsule
    What You Are Looking For Is in the Library – Michiko Aoyama (book review)
  • La Bellezza della Semplicita
    Raga yang Tak Lagi Sama
  • mamarantau
    Merantau di Anjo, Aichi, Jepang
  • carissavitri
    “Bu, Capek. Mau Sama Ibu Aja Selamanya”
  • Gembul Kecil Penuh Debu
    Mangut Iwak Wader ❤
  • Catatan Nyempil Kalau Lagi Ada Waktu
    Matilda's 6th Birthday Celebration
  • The Sun is Getting High, We're Moving on
    Lulus Cum Laude, Penting Gak Sih?
  • it's my point of view
    SGM Eksplor bersama Indomaret Dukung Pendidikan Anak Generasi Maju di Masa Pandemi
  • Talk about family, daily life, living, and us
    On Her Wedding Day
  • / besinikel
    1000 hari pertama Yaya, ngapain aja?
  • Masrafa.com
    Memilih Suplemen Dibantu Jovee
  • rocknroll mommy
    Makin Susah Cari Blogger
  • Jerapah Keriting
    Karena Harta yang Berharga adalah Foto Sekolah..
  • Afifa Ayu's Music Box ❤
    Update: My first baby publication!
  • Alfira Fitrananda
    When I’m Sick
  • Lafamilledewijaya
    Resik V Godokan Sirih : Buat Yang Pengen Alami Dan Praktis
  • rumahduapohon
    happy 7th anniversary mr. kumis!
  • santistory
    Manajemen Kulkas dan Belanja Mingguan
  • Mengumpulkan cerita yang terserak
    On this day, 8 Years Ago..
  • let the beast in!
  • Citraningrum
Show 5 Show All

Stats

Member of

Blogger Perempuan

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates