Hayo yang anak rantau ibukota sudah pada dapet tiket lebaran belum? Saya udah dong. Alhamdulillah yah, setelah perjuangan begadang 3 malem akhirnya dapet juga. Mana nyarinya dengan mata setengah watt lagi. Fiuuh! Sekalinya dapat rasanya lega bukan main. Jadi gak sabar untuk membuktikan keberhasilan ini menjadi kedua kali dalam pencarian tiket arus balik. Benar saja, ketika semua tiket pulang pergi sudah ditangan, rasanya legaaaa sekali. Puas. Karenanya saya berjanji pada diri sendiri untuk bagi-bagi resep mencari tiket tsb di blog acak kadul tercinta ini.
Dulu, divisi dimana saya berada selalu mengadakan meeting bersama setiap Senin pagi. Pesertanya adalah semua anggota divisi. Selain update project dan kerjaan rutin, di meeting tsb juga diisi dengan sharing pengetahuan dan pengalaman. Selain itu, kadangkala diselipi warna sari yang membahas rencana jalan-jalan di luar urusan kantor.
Dari kegiatan sharing yang pernah dilakukan, ada satu materi yang cukup membekas dalam ingatan saya. Sharing tsb dibawakan oleh pak bos kepala divisi. Materinya apa?
Bentar.. gelar tiker dulu, sambil diseruput cappucino hangatnya...
Warisan akun kan? Yap benar, pasti abis liat judul tulisan ini ya. Hihi...
Hampir semua dari kita pasti punya akun kan ya? Dan pasti lebih dari satu. Mau itu akun bank, akun sosmed, akun email, dan lain-lain. Biasanya yang sering jadi masalah adalah lupa password karena saking banyaknya akun yang harus di-maintain. Kalau udah lupa gitu mesti reset password dan segala macem. Mending kalau cuma akun sosial media, ribetnya gak seberapa. Lah kalau yang kelupaan password atm? Mesti jalan ke bank-nya, kalau hari hujan becek gak ada ojek, kalau hari panas males ntar gosong. Ribet bin rempong kan? Nah, untuk antisipasi kelupaan, bos saya memberi saran sebaiknya semua akun itu terdata dengan rapi dan selalu diupdate ketika bikin akun atau password baru. Aman gak tuh nge-data akun dalam satu database? Ya pinter2 nyimpennya aja sih. Jangan ember juga mulutnya... Hoho...
Selain untuk jaga2 dari kelupaan, ternyata ada satu kelebihan lagi yang kita dapat dengan membuat database akun, loh. Kelebihannya adalah.... database tersebut bisa diwariskan kepada orang-orang yang dianggap berhak untuk tahu akun2 tsb. Misalnya anak atau suami. Fungsinya buat apa? Ntar kalau dimanfaatin sama mereka gimana? Lha.. masa gak percaya sama suami atau anak sendiri sih... asumsikan semuanya baik2 saja dan amanah ya...
Fungsinya tak lain tak bukan adalah untuk jaga2 in case terjadi apa2 dengan kita. Bos saya cerita, dulu waktu ayahnya (atau ayah saudaranya, lupa) meninggal dunia, gak ada satupun dari keluarganya yang tahu akun atau password rekening bank yang dimiliki ayahnya tsb. Sementara uang dalam rekening tsb memang diwariskan kepada istri dan anak2nya, mungkin ayahnya lupa gak ngasih tahu akun dan password sebelumnya. Begitu ke bank urusan pencairan uang jadi lebih ribet, meski sudah disertai dengan surat2 yang disyaratkan. Padahal pula itu yang ngambil istri atau anak kandung. Yang seharusnya cuma butuh beberapa hari jadi berhari-hari karena ternyata bank tetap melakukan beberapa prosedur tertentu demi menjaga dari hal-hal negatif, seperti adanya semacam interogasi dll. Sementara waktu itu, ceritanya, selain akan dibagikan sesuai wasiat, uang tsb juga akan digunakan untuk keperluan pemakaman, selametan, urusan ini itu, banyak. Nah dari situlah, bos saya menyimpulkan bahwa kita yang masih hidup ini memang perlu untuk mewariskan akun yang kita punya, agar keluarga yang ditinggalkan lebih gampang mengurusnya.
Saya pikir... bener juga ya...
Emm... ada satu lagi tambahan dari saya, selain akun perbankan, mewariskan akun sosial media juga penting. Rasanya suami, anak atau ortu perlu deh dikasih tahu akun dan password kita apa. Tentu saja demi menjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari.
Dari kegiatan sharing yang pernah dilakukan, ada satu materi yang cukup membekas dalam ingatan saya. Sharing tsb dibawakan oleh pak bos kepala divisi. Materinya apa?
Bentar.. gelar tiker dulu, sambil diseruput cappucino hangatnya...
Warisan akun kan? Yap benar, pasti abis liat judul tulisan ini ya. Hihi...
Hampir semua dari kita pasti punya akun kan ya? Dan pasti lebih dari satu. Mau itu akun bank, akun sosmed, akun email, dan lain-lain. Biasanya yang sering jadi masalah adalah lupa password karena saking banyaknya akun yang harus di-maintain. Kalau udah lupa gitu mesti reset password dan segala macem. Mending kalau cuma akun sosial media, ribetnya gak seberapa. Lah kalau yang kelupaan password atm? Mesti jalan ke bank-nya, kalau hari hujan becek gak ada ojek, kalau hari panas males ntar gosong. Ribet bin rempong kan? Nah, untuk antisipasi kelupaan, bos saya memberi saran sebaiknya semua akun itu terdata dengan rapi dan selalu diupdate ketika bikin akun atau password baru. Aman gak tuh nge-data akun dalam satu database? Ya pinter2 nyimpennya aja sih. Jangan ember juga mulutnya... Hoho...
Selain untuk jaga2 dari kelupaan, ternyata ada satu kelebihan lagi yang kita dapat dengan membuat database akun, loh. Kelebihannya adalah.... database tersebut bisa diwariskan kepada orang-orang yang dianggap berhak untuk tahu akun2 tsb. Misalnya anak atau suami. Fungsinya buat apa? Ntar kalau dimanfaatin sama mereka gimana? Lha.. masa gak percaya sama suami atau anak sendiri sih... asumsikan semuanya baik2 saja dan amanah ya...
Fungsinya tak lain tak bukan adalah untuk jaga2 in case terjadi apa2 dengan kita. Bos saya cerita, dulu waktu ayahnya (atau ayah saudaranya, lupa) meninggal dunia, gak ada satupun dari keluarganya yang tahu akun atau password rekening bank yang dimiliki ayahnya tsb. Sementara uang dalam rekening tsb memang diwariskan kepada istri dan anak2nya, mungkin ayahnya lupa gak ngasih tahu akun dan password sebelumnya. Begitu ke bank urusan pencairan uang jadi lebih ribet, meski sudah disertai dengan surat2 yang disyaratkan. Padahal pula itu yang ngambil istri atau anak kandung. Yang seharusnya cuma butuh beberapa hari jadi berhari-hari karena ternyata bank tetap melakukan beberapa prosedur tertentu demi menjaga dari hal-hal negatif, seperti adanya semacam interogasi dll. Sementara waktu itu, ceritanya, selain akan dibagikan sesuai wasiat, uang tsb juga akan digunakan untuk keperluan pemakaman, selametan, urusan ini itu, banyak. Nah dari situlah, bos saya menyimpulkan bahwa kita yang masih hidup ini memang perlu untuk mewariskan akun yang kita punya, agar keluarga yang ditinggalkan lebih gampang mengurusnya.
Saya pikir... bener juga ya...
Emm... ada satu lagi tambahan dari saya, selain akun perbankan, mewariskan akun sosial media juga penting. Rasanya suami, anak atau ortu perlu deh dikasih tahu akun dan password kita apa. Tentu saja demi menjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari.
Gambar dari sini.
\\
Beberapa minggu belakangan ini wa saya bajir pesan masuk. Ini karena
saya ikutan kelas online tentang tips trik berjualan online dengan internet marketing. Kelas tsb
diberi nama Boss Keren 3 (BK#3), yang sepertinya pernah ada seri 1
dan 2. Kelas dibuat online via grup wa. Demi menjawab rasa penasaran,
mendaftarlah saya di kelas tsb. Dan sampai sekarang masih bertahan. Hape
juga masih baik-baik saja menerima ratusan pesan masuk setiap
hari selama 24 jam.
Ada banyak materi yang cukup berharga yang didapat dari kelas ini. Selain materi teori yang bisa dipraktekkan langsung, ada juga cerita sukses dari para owner online/offline shop maupun sharing dari pakar yang benar-benar pakar internet marketing.
Berhubung lumayan capek kalau tiap hari harus manjat chat yang bisa nyampe ratusan, saya berniat menulis ulang apa-apa yang pernah di-sharing. Tujuannya tak lain sebagai dokumentasi pribadi, syukur-syukur berguna buat yang lain, khususnya sesama member grup yang juga ketinggalan beberapa sesi diskusi. Kalau sudah di dokumentasikan di media yang lebih luas kan saya bisa clear chat, agar hp tetap aman terkendali. Gak ngehang karena cepet panas dan memori penuh.
Kali pertama saya mau berbagi cara mem-branding sosial media (sosmed) yang kita punya sebagai modal mencari sebongkah berlian *lebay* alias meraih rejeki. Tapi noted ya kalau rejeki itu gak harus bentuk materi. Nambah teman dan saudara juga termasuk rejeki. Nah sosmed yang dimaksud adalah facebook. Kenapa facebook, karena sosmed ini masih jadi raja dikalangan penggunanya. Penggunanya paling banyak (sumber: panduanim.com), apalagi sekarang fiturnya makin powerfull. Iya kan?
Sharing ini dibawakan oleh Nadia, seorang enterpreneur muda yang sukses meraih omset sampai jutaan dengan berjualan online. Sebelum memulai sharing, dia melontarkan beberapa pertanyaan pancingan, yang kemudian dijawab oleh hampir semua member yang ikut, termasuk saya. Pertanyaannya saya copi-kan dibawah ya...
Note: sharing dilakukan pada 2016/02/27, 22:29
Ada banyak materi yang cukup berharga yang didapat dari kelas ini. Selain materi teori yang bisa dipraktekkan langsung, ada juga cerita sukses dari para owner online/offline shop maupun sharing dari pakar yang benar-benar pakar internet marketing.
Berhubung lumayan capek kalau tiap hari harus manjat chat yang bisa nyampe ratusan, saya berniat menulis ulang apa-apa yang pernah di-sharing. Tujuannya tak lain sebagai dokumentasi pribadi, syukur-syukur berguna buat yang lain, khususnya sesama member grup yang juga ketinggalan beberapa sesi diskusi. Kalau sudah di dokumentasikan di media yang lebih luas kan saya bisa clear chat, agar hp tetap aman terkendali. Gak ngehang karena cepet panas dan memori penuh.
Kali pertama saya mau berbagi cara mem-branding sosial media (sosmed) yang kita punya sebagai modal mencari sebongkah berlian *lebay* alias meraih rejeki. Tapi noted ya kalau rejeki itu gak harus bentuk materi. Nambah teman dan saudara juga termasuk rejeki. Nah sosmed yang dimaksud adalah facebook. Kenapa facebook, karena sosmed ini masih jadi raja dikalangan penggunanya. Penggunanya paling banyak (sumber: panduanim.com), apalagi sekarang fiturnya makin powerfull. Iya kan?
Sharing ini dibawakan oleh Nadia, seorang enterpreneur muda yang sukses meraih omset sampai jutaan dengan berjualan online. Sebelum memulai sharing, dia melontarkan beberapa pertanyaan pancingan, yang kemudian dijawab oleh hampir semua member yang ikut, termasuk saya. Pertanyaannya saya copi-kan dibawah ya...
Note: sharing dilakukan pada 2016/02/27, 22:29
- Sudahkah kita memilih nama yg baik untuk facebook kita? jawab = sudaah.
- Bagaimana kalo anda di add oleh orang2 yg isi postingannya adalah hal2 negatif, misal : gosipin org lain, kata kata kasar, galau yg mendayu2, misal : ohh dunia sungguh kejam padaku.. dimanakah kan kucari dirimu yg tlah menghilang seabad lamanya..separuh jiwaku pergi nyasar entah kemana??? jawab = tergantung kenal apa gak orang tsb. Kalau pun kenal bolehlah di approve, tapi unfollow. Tapi setelah di approve, kemudian dalam waktu lama gak ada interaksi mungkin bisa di-unfriend.
- Boleh ya saya kepo dikit, coba cek ada berapa jumlah pertemanan di kontak anda. Terus klo anda bikin status, rata2 dapet berapa like, koment dan share? jawab = 1000-an teman, like n comment dikit, masih dibawah 20an.
- Temen 3000 yg komen 20.. ya lumayan. Tp belom ada 1% nya tuh, yg 99% ngumpet kemana yaa kira2? jawab = gak tahu pada kemana, ngumpet di kolong kali. Hehe
- Menurut anda, kenapa sih temen2 males atau pelit utk ngelike status anda? jawab = mungkin statusku ga sesuai dg hati mereka saat itu.
- Bagaimana perasaan anda klo ada temen baru diapprove, langsung kasih jempol atau komen di status kita? Dan apa yang akan anda lakukan utk merespon si temen baru kita ini? jawab = ya gpp seneng aja brarti dia add karena statusku atau akunya sesuai harapannya. Biasanya langsung aku like or komen balik.
- Ada temen baru kita approve, terus lngsung ngetag promo dagangan, inbox2 promo dagangan tanpa ijin lebih dulu, apa yg akan anda lakukan? jawab = liat2 dulu dagangannya apa, tapi klo di tag sembarangan emg aku kurang suka, paling aku un-tag dari dagangannya. Klo aku kurang suka sama produk yang dijual ya unfollow. Jarang unfriend, kecuali udah kebangetan ngetag2 yang mirip spam.
- Anda ngeadd temen baru, kemudian di approve oleh mereka, tindakan apa yg akan anda lakukan selanjutnya terhadap temen baru ini? jawab = say thanks, klo kenal bs japri, klo gak kenal ya say thanks aja atau biasa aja gak ngapa2in.
- Tema apa sih yg paling anda suka posting.? Apakah postingan itu mewakili siapa anda, perasaan anda? jawab = tema2 yg berisi sharing yg bermanfaat dan positif, bukan berisi kebencian dan hal2 negatif. Tema kehidupan sehari2 aja.
- Sejujurnya anda ingin dikenal sbg apa dan sbg siapa? jawab = sbg diri sendiri yg bs bermanfaat, positif, gak banyakan ngeluh dan menghujat.
Dari
pertanyaan diatas, ada banyak sekali jawaban yang diberikan. Jawaban2
tersebut tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Namanya juga
pendapat kan? Di akhir sesi, Nadia memberikan kesimpulan dari semua
hasil diskusi. Sumonggo, saya copy-kan dengan sedikit pengeditan agar lebih merasuk dibacanya.
- Buatlah akun facebook dan social media lainnya dengan nama yang baik, bukan nama alay.
- Jangan memosting sesuatu yg bernada negatif (keluhan, umpatan, sindiran, nyinyiran, dll).
- Like Komen Sedikit? Ayo mulai berinteraksi dg temen2 di akun sosmed.
- Jangan pelit utk kasih LKS (like, komen dan share) di status temen.
- Kasih feed back positif kepada temen2 baru kita terutama yang mulai ngajakin pedekate.
- Jangan nge-tag promo dagangan tanpa ijin.
- Perlakukan org lain sebagaimana kita ingin diperlakukan, kalau kita pengen orang lain gak pelit ilmu sama kita, ya kita jangan pelit ilmu sama org lain, kalau pengen status kita disukai dan dikomen, ya kita like komen status org lain dulu.
- Buatlah postingan yang menarik, sesuai dengan isi perasaan kita tapi jangan dibuat-buat dan jangan lebay.
- Isi postingan facebook (sosmed lain) menunjukkan identitas kita yang menunjukkan siapa kita. Apakah kita rela dicap sebagai biang gosip, preman facebook, galauwers atau alayers? Tentuu tidak kan.
Kira-kira itu yang bisa saya sharing dari hasil belajar via grup BK#3. Ada yang penasaran ada materi apa aja setelah ini? Mau banget dong eike dinantikan... Hahaha...
\\
Plesiran di negara mayoritas non muslim memang cukup menjadi kendala buat wisatawan muslim seperti kami. Karena di tempat wisatanya gak ada yang menyediakan ruang solat, sementara kami tidak bisa meninggalkan kewajiban 5 waktu begitu saja. Makanya agar jalan-jalan tetep bikin hati nyaman, kita mesti pinter-pinter cari cara gimana biar solat lancar dimanapun berada :)
Nah di postingan kali ini saya mau sharing yang agak-agak bermutu nih *hihi*. Dari kapan tau pengen sharing cara kami solat waktu jalan-jalan di Jepang kemarin, tapi baru bisa ketulis sekarang deh, maafkeun. Khusus yang saya mau ceritakan solat dzuhur dan ashar ya.. karena waktunya pasti pas lagi diluar ruangan sembari jalan-jalan menikmati indahnya negeri sakura :D




